Pelepasan ekspor tersebut bukan sekadar pengiriman komoditas perikanan ke pasar internasional, tetapi menjadi simbol sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta dalam mendorong hilirisasi produk unggulan kawasan transmigrasi. Kolaborasi ini sekaligus mempertegas posisi Gresik sebagai simpul industri pengolahan yang mampu meningkatkan nilai tambah hasil perikanan nasional.
Ekspor rajungan merupakan hasil kerja sama Kementerian Transmigrasi RI, Pemerintah Kabupaten Gresik, Aruna Indonesia, dan CV Kudatama Mas. Bahan baku diperoleh dari berbagai kawasan transmigrasi, meliputi Sorong (Papua), Maluku, Maluku Utara, Kabupaten Pasangkayu (Sulawesi Barat), serta kawasan pesisir Gresik dan Lamongan. Seluruh hasil tangkapan tersebut diproses di Gresik sebelum dikirim menuju pasar Amerika Serikat.
Dalam sambutannya, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menilai sinergi tersebut menjadi bukti nyata bahwa kawasan industri Gresik mampu menjadi penghubung strategis antara potensi sumber daya daerah dengan pasar ekspor global.
"Di tengah tantangan ekonomi global, kita patut bersyukur karena produk unggulan daerah, termasuk dari kawasan transmigrasi, mampu menembus pasar dunia. Hari ini kita melepas satu kontainer, dan kami berharap ke depan volumenya terus meningkat hingga lima kontainer atau bahkan lebih," ujar Gus Yani.
Menurutnya, keberhasilan ekspor rajungan didukung oleh melimpahnya bahan baku dari kawasan pesisir dan transmigrasi di Indonesia Timur, serta kualitas sumber daya manusia yang menjadi tulang punggung industri pengolahan.
Ia menegaskan, industri rajungan merupakan sektor padat karya yang lebih mengedepankan keterampilan tenaga kerja dibanding penggunaan teknologi tinggi.
"Nilai utama industri ini bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada keterampilan para pekerja yang mampu menghasilkan produk sesuai standar internasional. Karena itu peningkatan kualitas SDM menjadi prioritas," katanya.
Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Kabupaten Gresik membuka ruang kolaborasi melalui program pendidikan vokasi dan pelatihan kerja bersertifikat bagi kebutuhan dunia industri.
"Kami siap memfasilitasi pelatihan tenaga kerja sesuai kebutuhan perusahaan. Peningkatan kompetensi SDM merupakan investasi bersama yang akan memperkuat daya saing industri sekaligus membuka lebih banyak peluang kerja," tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yani juga melihat peluang besar bagi hilirisasi komoditas unggulan lainnya dari kawasan transmigrasi.
Ia menyebut, keberhasilan rajungan dapat menjadi model pengembangan bagi produk seperti kakao, kopra, maupun komoditas strategis lainnya agar memperoleh nilai tambah melalui proses pengolahan di Gresik.
"Kami berharap dukungan Kementerian Transmigrasi terus diperkuat sehingga semakin banyak produk unggulan kawasan transmigrasi yang diolah di Gresik sebelum dipasarkan ke dunia internasional," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Transmigrasi RI Viva Yoga Mauladi mengatakan ekspor rajungan tersebut membuktikan bahwa kawasan transmigrasi kini berkembang menjadi pusat produksi berbagai komoditas bernilai tinggi, tidak hanya sektor pertanian, tetapi juga perikanan.
Menurutnya, kemitraan dengan Aruna telah membuka akses pasar ekspor bagi hasil tangkapan nelayan sehingga mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.
"Rajungan menjadi salah satu produk unggulan kawasan transmigrasi. Dengan adanya kemitraan ini, hasil tangkapan nelayan dapat masuk ke pasar internasional dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat," katanya.
Viva Yoga menjelaskan, arah pembangunan transmigrasi saat ini berfokus pada penguatan ekonomi lokal melalui hilirisasi produk unggulan sesuai potensi masing-masing daerah.
Ia menambahkan, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Transmigrasi mengemban empat misi utama, yakni memperkuat persatuan bangsa, mengentaskan kemiskinan, mendukung swasembada pangan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
"Setiap kawasan transmigrasi memiliki karakteristik dan produk unggulan yang berbeda. Karena itu pengembangannya harus dilakukan secara spesifik agar mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat," jelasnya.
Viva Yoga mengungkapkan, permintaan rajungan dari Amerika Serikat masih sangat tinggi. Saat ini pengiriman dilakukan secara rutin dua kali setiap bulan dengan kapasitas sekitar 16 ton per kontainer dan nilai ekspor mencapai Rp14 miliar hingga Rp15 miliar.
Ia juga mengapresiasi proses produksi di CV Kudatama Mas yang telah memenuhi standar internasional, sekaligus mampu menyerap banyak tenaga kerja karena sebagian besar proses pengolahan masih dilakukan secara manual.
"Industri ini tidak hanya menghasilkan devisa negara, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan yang luas. Ke depan kami akan terus memperkuat kolaborasi agar semakin banyak nelayan di kawasan transmigrasi yang memperoleh manfaat dari rantai nilai ekspor," ujarnya.
Selain memperkuat kemitraan dengan pelaku usaha, Kementerian Transmigrasi juga terus membangun sinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui pemberdayaan nelayan, penguatan rantai pasok, serta pengembangan hilirisasi berbasis potensi daerah.
Menurut Viva Yoga, apabila pasokan rajungan dari kawasan transmigrasi terus meningkat secara berkelanjutan, pembangunan fasilitas pengolahan di kawasan transmigrasi juga menjadi peluang yang sangat terbuka. Langkah tersebut diharapkan mampu menghadirkan nilai tambah langsung di daerah asal produksi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pelepasan ekspor rajungan dari Gresik ini menjadi bukti bahwa hilirisasi tidak hanya meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, serta mendorong pemerataan pembangunan ekonomi hingga kawasan transmigrasi.
(Dwi RK)
dibaca
