Sosok yang dikenal sebagai jurnalis, pegiat budaya, penggerak pariwisata, sekaligus Presiden Repoeblik Ngopi tersebut dinilai memiliki konsistensi tinggi dalam memperkenalkan nilai-nilai budaya Nusantara kepada masyarakat luas.
Berasal dari Parelegi, Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, perjalanan Sangheyang Hamim selama bertahun-tahun diwarnai berbagai aktivitas sosial, budaya, spiritual, dan pariwisata yang berpusat di kawasan Gunung Arjuna.
Sejak tahun 2019, Sangheyang Hamim dikenal aktif menjalankan program yang ia sebut sebagai "Muteri Kawasan Gunung Arjuna". Program tersebut berfokus pada pengenalan sejarah, budaya, situs-situs leluhur, serta potensi wisata yang berada di kawasan Gunung Arjuna dan sekitarnya.
Melalui berbagai kegiatan lapangan, dokumentasi, publikasi media, hingga jejaring komunitas budaya, ia berupaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur.
Menurut sejumlah tokoh budaya yang mengenalnya, konsistensi menjadi salah satu karakter utama Sangheyang Hamim. Gagasan mengenai pentingnya kawasan Gunung Arjuna sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Nusantara telah ia gaungkan sejak puluhan tahun lalu dan terus diperjuangkan hingga sekarang.
Tidak hanya aktif di bidang budaya, Sangheyang Hamim juga dikenal menjalankan berbagai aktivitas yang saling mendukung satu sama lain. Melalui dunia jurnalistik, ia menyebarluaskan informasi dan edukasi budaya kepada masyarakat. Di bidang spiritual dan pelestarian tradisi, ia menjalin komunikasi dengan para sesepuh dan tokoh adat dari berbagai daerah.
Sementara dalam bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, ia mendorong pengembangan potensi lokal melalui konsep berbasis budaya dan kearifan lokal. Aktivitas tersebut diperkuat dengan pemanfaatan media digital dan berbagai platform informasi yang digunakan untuk memperkenalkan potensi Nusantara kepada khalayak yang lebih luas.
Pada tahun 2019, Sangheyang Hamim menerima amanah sebagai Duta Wisata Internasional Kawasan Gunung Arjuna. Dalam kapasitas tersebut, ia aktif mempromosikan potensi wisata, sejarah, budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat di kawasan Gunung Arjuna kepada masyarakat nasional maupun internasional.
Wilayah yang menjadi fokus pengembangan meliputi sejumlah daerah yang memiliki keterkaitan historis dan geografis dengan kawasan Gunung Arjuna, antara lain Pasuruan, Mojokerto, Malang, Sidoarjo, Jombang, Kediri, dan Blitar. Berbagai kegiatan dokumentasi, edukasi budaya, hingga pengenalan destinasi wisata terus dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus promosi budaya daerah.
Selain dikenal sebagai pegiat budaya, Sangheyang Hamim juga merupakan pendiri dan Presiden Repoeblik Ngopi. Melalui komunitas tersebut, kopi tidak hanya diposisikan sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai media silaturahmi, komunikasi, dan diplomasi budaya.
Berbagai kegiatan diskusi, pertemuan lintas komunitas, hingga dialog kebangsaan sering kali dilakukan dalam suasana sederhana dengan secangkir kopi sebagai pemersatu. Bagi Sangheyang Hamim, kopi menjadi simbol persaudaraan yang mampu mempertemukan berbagai latar belakang dalam semangat kebersamaan dan gotong royong.
Dalam kegiatan Kembalinya Titisan Nusantara, Sangheyang Hamim memperoleh apresiasi dari berbagai tokoh budaya, spiritual, dan masyarakat yang hadir. Dedikasinya dalam memperkenalkan budaya Nusantara, menjaga nilai-nilai leluhur, serta mempromosikan potensi wisata Jawa Timur dinilai memberikan kontribusi positif bagi pelestarian budaya bangsa.
Berbagai pihak berharap upaya yang dilakukan Sangheyang Hamim dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai sejarah, budaya, serta kekayaan alam Indonesia.
Di tengah berbagai aktivitas dan perannya, Sangheyang Hamim tetap dikenal dengan filosofi sederhana yang sering ia sampaikan, yakni "Menunggu Kesadaran". Baginya, perubahan besar tidak dapat dipaksakan. Kesadaran masyarakat harus tumbuh melalui pendidikan, keteladanan, kerja nyata, dan konsistensi yang berkelanjutan.
"Saya hanya berusaha membangun jalan. Ketika masyarakat sudah siap dan sadar akan pentingnya budaya serta jati dirinya, jalan itu akan menjadi milik bersama," tuturnya.
Dengan semangat tersebut, Sangheyang Hamim terus melangkah membawa misi pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan penguatan identitas Nusantara sebagai warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Dedikasi yang telah ditunjukkannya selama bertahun-tahun menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap budaya dan tanah air dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang berkelanjutan.
(Mud RK)
dibaca

