Rajawali Kompas

Dari Laku Spiritual ke Ruang Kebudayaan Gus Tri Dirikan “Paseban Ngaweruh Leluhur” di Magetan

[Foto : KA. Agustinus ( Gus Tri ) Pegiat Budaya Nusantara]
Magetan | Rajawalikompas.com – Ikhtiar merawat jejak peradaban leluhur kembali menemukan bentuknya. KA. Agustinus, yang akrab disapa Gus Tri, menutup rangkaian perjalanan spiritual dan kebudayaannya dengan sebuah langkah konkret: mendirikan ruang penghormatan bernama “Paseban Ngaweruh Leluhur” di Kabupaten Magetan.

Perjalanan tersebut bukan sekedar ziarah biasa, melainkan laku batin yang menyusuri simpul-simpul sejarah dan tradisi di berbagai wilayah Nusantara. Sejumlah titik yang disinggahi di antaranya Sitiinggil Mojokerto, Situs Sendang Kamal, Makam Keramat Ki Nantang Judo, hingga kawasan bersejarah Benteng Pendem Ngawi.

Di lokasi terakhir, pengalaman yang dialami Gus Tri menjadi titik balik yang menguatkan arah pengabdiannya terhadap nilai-nilai leluhur.

“Dalam ritual di Makam Ki Nantang Judo, saya merasakan getaran energi yang kuat, namun menenangkan. Seolah ada pesan yang mengajak untuk tidak berhenti pada pencarian, melainkan melanjutkan dalam bentuk pengabdian,” ujar Gus tri.Senin (13/04/2026)

Pengalaman tersebut berlanjut dalam refleksi batin yang ia jalani melalui doa dan meditasi. Dalam salah satu pengalaman spiritualnya, ia mengaku menerima simbol berupa payung yang dalam khazanah budaya Nusantara kerap dimaknai sebagai perlindungan, kewenangan, sekaligus amanah.

Bagi Gus Tri, simbol tersebut bukan sekedar pengalaman personal, melainkan pengingat akan tanggung jawab kultural. Ia menafsirkan pengalaman itu sebagai dorongan untuk menghadirkan ruang bersama, tempat nilai-nilai luhur tidak hanya dikenang, tetapi juga dipelajari dan dilestarikan.

Dari situlah lahir Paseban Ngaweruh Leluhur sebuah ruang yang dikonsep sebagai pusat pertemuan, pembelajaran, sekaligus perenungan tentang jati diri bangsa. Rumah pribadinya pun dikondisikan ulang menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja yang ingin memahami warisan budaya secara lebih mendalam.

“Paseban ini kami hadirkan sebagai ruang untuk ‘ngaweruh’ memahami dan menyadari kembali akar leluhur. Di sinilah nilai-nilai itu bisa dirawat bersama, agar tidak tergerus oleh zaman,” tegasnya.

Lebih dari sekedar tempat fisik, paseban ini diharapkan menjadi simpul kebudayaan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sebuah ruang di mana tradisi tidak berhenti sebagai simbol, tetapi hidup dalam praktik keseharian.

Gus Tri menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kesinambungan tersebut. Menurutnya, modernitas tidak seharusnya memutus hubungan dengan akar budaya, melainkan justru menjadi sarana untuk memperkuat identitas bangsa.

“Nguri-uri budaya bukan berarti mundur ke belakang, tetapi menjaga arah agar kita tidak kehilangan jati diri,” ujarnya.

Kehadiran Paseban Ngaweruh Leluhur menjadi penanda bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Justru dari ruang-ruang sederhana yang dilandasi kesadaran dan ketulusan, nilai-nilai luhur dapat terus hidup dan memberi makna.

Langkah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan Nusantara bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijaga, dipahami, dan diwariskan sebagai cahaya yang menuntun perjalanan bangsa di tengah arus perubahan zaman.

(Hamim RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama