![]() |
| [Foto : Prosesi penyerahan replika tongkat dan tasbih sebagai simbol restu pendirian NU berlangsung khidmat di Tebuireng, Jombang] |
Agenda napak tilas ini merupakan rekonstruksi historis perjalanan KH As’ad Syamsul Arifin saat mengantarkan isyarah berupa tongkat dan tasbih dari Syaikhona KH Cholil Bangkalan kepada KH Muhammad Hasyim Asy’ari di Tebuireng pada tahun 1926, yang kemudian menjadi tonggak berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Perjalanan spiritual tersebut dimulai dari Bangkalan, Madura. Ribuan peserta menempuh perjalanan panjang hingga tiba di Kabupaten Jombang. Sejak selepas Maghrib, jamaah telah memadati Alun-alun Jombang sebagai titik kumpul utama.
Sambil menunggu pemberangkatan resmi yang dilepas oleh Bupati Jombang, rombongan beristirahat di Masjid Agung Baitul Mukminin. Suasana khidmat dan penuh haru terasa kuat ketika para peserta bersiap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju titik akhir di Pondok Pesantren Tebuireng.
Rombongan napak tilas dipimpin langsung oleh KH Achmad Azaim Ibrohimi, cucu KH As’ad Syamsul Arifin sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Setelah menempuh perjalanan kaki, rombongan tiba di Pesantren Tebuireng sekitar pukul 21.38 WIB.
Kedatangan para peserta disambut hangat oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), bersama jajaran dzurriyah KH Muhammad Hasyim Asy’ari.
Puncak acara berlangsung di depan Ndalem Kasepuhan, saat KH Achmad Azaim Ibrohimi secara simbolis menyerahkan replika tongkat dan replika tasbih sebagai simbol amanah dan restu pendirian Nahdlatul Ulama.
Usai prosesi, ribuan peserta melaksanakan tahlil dan istighosah di makam KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai bentuk penghormatan dan refleksi atas perjuangan para ulama pendiri NU.
“Napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi pengingat sejarah lahirnya NU yang harus terus dijaga oleh generasi Nahdliyyin,” ujar salah satu panitia kegiatan.
Melalui kegiatan ini, semangat khidmah, persatuan, dan tradisi pesantren diharapkan terus hidup dalam perjalanan NU menuju abad keduanya.
(Pan)
dibaca
