Pasopati Cakra Nusantara Gelar Prosesi Cakra Jagad Kumitir Awal 2026, Harmoni Spiritualitas dan Rasionalitas

[Foto : Pasopati Cakra Nusantara di Pertapaan Indrokilo, Prigen, Pasuruan, seusai Prosesi Cakra Jagad Kumitir awal tahun 2026]
Pasuruan | Rajawali Kompas – Mengawali tahun 2026, Pasopati Cakra Nusantara melaksanakan Prosesi Cakra Jagad Kumitir sebagai ikhtiar spiritual sekaligus refleksi rasional dalam membangun keselarasan antara manusia, alam semesta, dan Sang Maha Kuasa.

Prosesi sakral ini digelar pada Sabtu Kliwon, (3/1/2026), bertepatan dengan fase Bulan Purnama, yang dalam penanggalan Jawa dipercaya sebagai momentum baik untuk doa dan penyelarasan energi semesta. Kegiatan berlangsung khidmat di Pertapaan Indrokilo, lereng Gunung Ringgit, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Pasopati Cakra Nusantara di bawah kendali Mpu Batu memaknai prosesi ini sebagai langkah awal tahun yang tidak hanya mengandalkan doa dan ikhtiar lahiriah, tetapi juga menuntut keselarasan batin serta kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Prosesi Cakra Jagad Kumitir diwujudkan melalui ritual penyatuan tiga elemen alam utama udara, tanah, dan air. Simbolisasi dilakukan dengan pelepasan sembilan burung perkutut sebagai perlambang sembilan pusaka, serta penyajian cok bakal berupa hasil bumi, sebagai manifestasi rasa syukur atas karunia alam semesta.

Doa bersama dipimpin oleh Nyai Bunda Ngatina dan KPAS Mpu Ki Bagus, selaku Ketua Umum Pasopati Cakra Nusantara, didampingi jajaran Pasopati yang hadir dalam prosesi tersebut.

KPAS Mpu Ki Bagus menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memohon agar alam semesta senantiasa berada dalam kondisi seimbang, tidak terus bergejolak, serta membawa pengaruh positif bagi kehidupan manusia.

“Prosesi ini adalah ikhtiar agar di tahun 2026 kita semua dijauhkan dari musibah, diberi ketenangan batin, serta kelancaran dalam kehidupan dan perekonomian,” ujarnya kepada awak media usai prosesi.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pelaksanaan ritual ini merupakan bagian dari uri-uri budaya leluhur, yang sarat nilai filosofi dan dapat dipahami secara rasional serta ilmiah. Menurutnya, warisan spiritual Nusantara tidak identik dengan klenik atau mistik, melainkan memiliki keterkaitan dengan metafisika dan konsep rasional, termasuk pemahaman tentang siklus energi dan tatanan semesta yang sejalan dengan logika dan akal sehat.

“Apa yang diwariskan leluhur adalah metodologi kehidupan. Ini bukan mistik tanpa makna, melainkan ilmu metafisika dan rasional yang bisa dijelaskan secara ilmiah,” tegas KPAS Mpu Ki Bagus, yang juga dikenal sebagai konsultan dan praktisi metafisika.

Melalui Prosesi Cakra Jagad Kumitir, Pasopati Cakra Nusantara berharap terciptanya kedamaian semesta, stabilitas kehidupan sosial dan ekonomi, serta berangsur pulihnya kondisi alam dari berbagai bencana.

Awal tahun 2026 pun dimaknai bukan sekedar pergantian waktu, melainkan momentum penyelarasan diri, alam, dan spiritualitas demi masa depan yang lebih seimbang dan harmonis.

(Hamim)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama

Sariyan

Pimred Rajawali Kompas. WA: 081216676968

Countact Pengaduan