Jejak Diplomatik Pemulangan Jenazah Syekh Yusuf: Menggugah Arsip Batavia 1704

Admin
By -
0


Makassar | Rajawalikompas.com — Setiap tanggal 24 Agustus, terdapat satu fragmen sejarah besar yang patut dikenang dan direfleksikan kembali oleh bangsa Indonesia. Tepat pada 24 Agustus 1704 - 322 tahun yang lalu sebuah surat diplomatik penting dikirimkan oleh Sultan Gowa, Sultan Fakhruddin Abdul Jalil, dari Makassar menuju Batavia.


Surat yang awalnya ditulis dalam bahasa Melayu tersebut kemudian diterjemahkan oleh juru tulis Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) ke dalam bahasa Belanda lama. Dokumen berharga ini mencatatkan momen krusial: kegigihan perjuangan politik dan kultural demi memulangkan jenazah ulama besar sekaligus Pahlawan Nasional, Syekh Yusuf Al-Makassari.


Setelah memimpin perlawanan sengit, Syekh Yusuf diasingkan oleh Belanda ke Ceylon (Sri Lanka) dan kemudian dipindahkan ke Kaapstad (Cape Town, Afrika Selatan). Sang ulama karismatik wafat di Zandvliet pada tahun 1699.


Wafatnya Syekh Yusuf meninggalkan kerinduan serta duka yang mendalam bagi keluarga, para murid, dan pihak Kesultanan Gowa. Selama bertahun-tahun, Kesultanan Gowa tidak tinggal diam dan terus melakukan negosiasi serta jembatan diplomasi yang ulet dengan pihak Kompeni.


Hasil dari keteguhan diplomasi tersebut akhirnya berbuah manis pada pertengahan tahun 1704. Pihak VOC akhirnya memberikan restu resmi untuk memulangkan jasad sang ulama beserta keluarga yang mendampinginya selama di pengasingan.


Berdasarkan naskah terjemahan resmi VOC (Translaat maleijse briefjes) bernomor halaman 343 yang diterima di Batavia pada 9 September 1704, terekam dengan jelas ungkapan kebahagiaan dan keharuan pihak Gowa atas dikabulkannya permintaan tersebut:


"...yang mana hal ini memberikan kegembiraan yang sangat besar bagi kami, karena telah dijanjikan bahwa Syekh Yusuf yang telah wafat di negeri asing dapat dimakamkan di tanah airnya sendiri, serta orang-orang saleh beserta anak-anaknya dapat dikembalikan ke permukiman mereka masing-masing."

Surat tersebut ditulis dengan tata krama diplomatik tingkat tinggi. Isinya diawali dengan penyampaian salam hormat serta pemberian hadiah-hadiah sebagai ucapan terima kasih kepada Gubernur Jenderal VOC, Willem van Outhoorn.


Selain misi kemanusiaan dan religi, dokumen kuno ini juga menyertakan dinamika politik yang rumit. Di dalamnya terekam negosiasi sengketa batas wilayah permukiman (negorij) antara Kerajaan Gowa dan pejabat Kompeni di lapangan, seperti Amicable Bouwman dan Willem Hartsing. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya konstelasi hubungan politik dan kekuasaan pada masa itu.


Pemulangan jasad Syekh Yusuf pada tahun 1704 bukan sekadar urusan pemakaman kembali, melainkan sebuah simbol menegakkan martabat, harga diri, dan penghormatan tertinggi Kesultanan Gowa terhadap salah satu tokoh pencerah Nusantara.


Jasad beliau akhirnya tiba di tanah Sulawesi dan dimakamkan di Lakiung, Gowa. Hingga hari ini, makamnya terus menjadi pusat peziarahan spiritual sekaligus pendorong semangat perjuangan bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya.


Arsip kuno berangka tahun 1704 ini menjadi bukti otentik bagaimana jalur diplomasi abad ke-18 mampu melintasi Samudra Hindia membawa pulang sang putra terbaik kembali ke pangkuan tanah ibu pertiwi.

(Hamim RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

0 Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Posting Komentar (0)
3/related/default