Jakarta | Rajawalikompas.com — Kesadaran akan pentingnya menjaga akar sejarah dan identitas bangsa kini terus digaungkan oleh para tokoh adat di berbagai penjuru Nusantara. Salah satu figur yang konsisten bergerak dalam pelestarian ini adalah Pangeran Iftiqar S.A. Ponto, seorang tokoh adat sekaligus keturunan bangsawan dari Kerajaan Bolangitang, Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara.
Melalui jejaring komunikasi adat Majelis Adat Indonesia, figur yang akrab disapa iip Ponto ini aktif membagikan temuan-temuan dokumen historis berharga. Salah satu yang mencuri perhatian publik adalah rilis arsip pemberitaan internasional mengenai modernisasi elit pribumi Sumatra di awal abad ke-20.
Berdasarkan dokumen kuno surat kabar Belanda, Dordrechtsche Courant edisi 30 Juni 1903 yang diungkap oleh iip_Ponto, tercatat sebuah momentum penting saat dua anggota keluarga bangsawan dari Kesultanan Asahan, Sumatra Utara, bertolak menuju Amsterdam, Belanda. Perjalanan lintas samudra ini mengemban misi dinas pendidikan tinggi kedokteran di Eropa.
Dua bangsawan muda tersebut adalah Putra Mahkota Asahan, Tengku Amir (19 tahun), dan paman tirinya, Tengku Musa (16 tahun). "Tengku Besar dari Asahan (Tengku Amir) sedang dalam perjalanan ke Belanda bersama kerabatnya, di mana Tengku Musa akan dididik untuk menjadi dokter," demikian bunyi kutipan laporan media lokal Belanda, Nieuws van den Dag (N.v.d.D.), yang dimuat ulang oleh Dordrechtsche Courant.
Hebatnya, laporan kolonial tersebut menggarisbawahi bahwa kedua putra daerah Pantai Timur Sumatra ini telah menguasai dan fasih berbahasa Belanda bahkan sebelum kaki mereka menginjakkan tanah Eropa. Hal ini tidak lepas dari latar belakang pendidikan dasar berorientasi Barat yang sempat mereka enyam di tanah Deli dan Medan.
Semangat pelestarian sejarah yang disebarkan oleh iip Ponto bukan sekadar narasi di atas kertas. Di tanah leluhurnya sendiri, dedikasi nyata itu mewujud secara sakral. Pada pertengahan tahun 2026, Pangeran Iftiqar S.A. Ponto secara resmi menerima amanah benda pusaka peninggalan leluhur Kerajaan Bolangitang.
Prosesi adat ini menandai penyerahan resmi Tongkat Raja Bolangitang serta Pisau Pusaka Presiden Raja Bolangitang Sinjo Ponto kepada beliau. Penyerahan simbolis ini menegaskan posisinya sebagai pemegang estafet utama dalam merawat eksistensi sejarah serta menjaga warisan budaya leluhur swapraja di Nusantara agar tidak lekang oleh waktu.
Langkah konkret yang dilakukan oleh para keturunan bangsa seperti Pangeran Iftiqar S.A. Ponto baik melalui penelusuran arsip global abad ke-20 maupun penjagaan fisik situs adat menjadi pengingat penting bagi generasi muda. Bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jati diri dan sejarahnya sendiri.
(Hamim RK)
dibaca


Hi Please, Do not Spam in Comments