![]() |
| [Foto : K.P. Eri Ratmanto Dwijonagoro bersama Kurator pameran temporer Mas Hanafi] |
Kegiatan berlangsung di sela-sela acara senam bersama yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIY dengan melibatkan para kepala dan staf museum se-DIY. Selain menjadi ajang silaturahmi antarlembaga kebudayaan, kegiatan ini juga menghadirkan ruang pertemuan bagi berbagai kalangan untuk bertukar gagasan mengenai kebudayaan dan nilai-nilai kebangsaan.
Kanjeng Pangeran Eri Ratmanto Dwijonagoro diketahui merupakan Koordinator Komunitas Pancasila Dasar NKRI Bukan Pilar. Sementara itu, Mas Hanafi merupakan mahasiswa program doktoral (S3) di Universitas Gadjah Mada (UGM), bidang Seni Pertunjukan, yang bertugas sebagai kurator pameran temporer dalam rangkaian kegiatan tersebut. Ia juga memiliki pengalaman di bidang permuseuman, termasuk pernah mengabdi di Museum Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Pembentangan spanduk tersebut menjadi simbol penyampaian pandangan Komunitas Pancasila Dasar NKRI Bukan Pilar mengenai posisi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bagi komunitas tersebut, Pancasila harus dipahami dan ditempatkan sebagai dasar negara yang menjadi landasan penyelenggaraan kehidupan bernegara, bukan sekadar simbol atau penopang di antara unsur-unsur kebangsaan lainnya.
Pesan tersebut sekaligus mengajak masyarakat untuk terus memahami nilai-nilai Pancasila secara mendalam, tidak hanya sebagai wacana, tetapi juga sebagai pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang berkeadaban, menjaga persatuan, serta menghormati keberagaman.
Di tengah dinamika sosial dan perkembangan zaman, pemahaman terhadap dasar negara dinilai tetap relevan untuk memperkuat kesadaran kebangsaan. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, termasuk komunitas kebangsaan, kalangan akademisi, serta lembaga kebudayaan.
Pertemuan antara Kanjeng Pangeran Eri Ratmanto Dwijonagoro dan Mas Hanafi juga memperlihatkan terbukanya ruang interaksi antara pegiat kebangsaan dan kalangan akademisi di lingkungan permuseuman.
Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelestarian benda bersejarah, tetapi juga berpotensi menjadi ruang edukasi, dialog, serta pengembangan pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan identitas bangsa.
Melalui kegiatan kebudayaan seperti ini, komunikasi antarpengelola museum, akademisi, dan komunitas masyarakat diharapkan dapat terus berkembang. Sinergi tersebut berpotensi memperluas ruang diskusi mengenai pelestarian budaya sekaligus memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Pada akhirnya, penguatan Pancasila tidak cukup berhenti pada penyampaian slogan. Pemahaman yang utuh perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati, semangat gotong royong, keadilan sosial, serta tanggung jawab bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Momentum di Museum Gunung Merapi tersebut menjadi pengingat bahwa dialog mengenai Pancasila dan identitas kebangsaan tetap memiliki tempat dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat, termasuk di lingkungan kebudayaan dan pendidikan.
( Hamim RK)
dibaca

Hi Please, Do not Spam in Comments