Jakarta | Rajawalikompas.com — Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menegaskan pentingnya monitoring dan evaluasi secara menyeluruh terhadap pelaksanaan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Evaluasi tersebut dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh program yang dijalankan di kawasan transmigrasi tetap berada pada koridor target dan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan dinamika yang muncul dalam pelaksanaan program di lapangan merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan. Kondisi sosial masyarakat, karakteristik wilayah, klimatologi, topografi, hingga aspirasi lokal menjadi faktor yang dapat memengaruhi implementasi program.
Namun demikian, menurut Viva Yoga, berbagai dinamika tersebut tidak boleh membuat program TEP kehilangan arah dari sasaran yang telah ditetapkan.
“Meski di lapangan ada dinamika program, hal itu tidak boleh menyimpang dari output dan target yang telah disepakati dalam Tim Ekspedisi Patriot,” ujar Viva Yoga dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan TEP 2026 di Jakarta, Selasa (23/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 peserta, termasuk Ketua TEP dan para reviewer proposal dari 10 perguruan tinggi negeri mitra Kementerian Transmigrasi, yakni Universitas Indonesia, IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
TEP 2026 sebelumnya telah diberangkatkan Kementerian Transmigrasi pada akhir Juli hingga awal Agustus. Sebanyak 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi.
Para peserta yang berasal dari kalangan guru besar, doktor, magister, dan sarjana tersebut memiliki mandat untuk menghasilkan model, prototipe, desain, serta pendampingan yang dapat diterapkan sesuai karakteristik kawasan transmigrasi. Selain itu, mereka juga ditugaskan menyusun rekomendasi kebijakan berdasarkan temuan dan kondisi faktual di lapangan.
Viva Yoga menilai, besarnya cakupan program membuat proses monitoring dan evaluasi tidak dapat dilakukan secara parsial.
“Program-program ini perlu ditelaah secara holistik karena menyangkut banyak aspek,” katanya.
Menurut dia, dinamika yang ditemukan selama pelaksanaan program justru perlu menjadi bahan kajian untuk memastikan setiap intervensi benar-benar sesuai dengan kebutuhan kawasan dan masyarakat.
“Dinamika program bisa terjadi karena alasan kondisi sosial dan faktor lain sehingga perlu kajian lebih lanjut,” ujarnya.
Karena itu, forum monitoring dan evaluasi diharapkan menjadi ruang untuk membahas, mendiskusikan, sekaligus melakukan review terhadap berbagai perkembangan program yang berlangsung di kawasan transmigrasi.
“Hasil dari kegiatan ini nantinya akan menjadi keputusan bersama,” kata Viva Yoga.
Lebih jauh, Kementerian Transmigrasi berharap kehadiran TEP tidak berhenti pada aktivitas penelitian, pendampingan, atau penyusunan rekomendasi semata. Pengetahuan dan inovasi yang dibawa para akademisi diharapkan dapat diterjemahkan menjadi perubahan konkret dalam pengembangan kawasan transmigrasi.
Viva Yoga mendorong agar implementasi program TEP mampu membuka berbagai spektrum pengembangan kawasan, mulai dari penguatan basis produksi, industrialisasi, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga pembentukan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Implementasi program dari civitas akademika di lapangan diharapkan mampu mengembangkan kawasan transmigrasi dengan berbagai spektrum untuk industrialisasi, meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan pusat-pusat perkembangan ekonomi, sesuai dengan target Kementerian Transmigrasi,” tuturnya.
Ia juga berharap proses monitoring dan evaluasi melahirkan perspektif baru yang dapat memperkaya kebijakan pembangunan transmigrasi ke depan.
“Dari kegiatan ini saya harap ada pandangan baru,” katanya.
Viva Yoga juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat di kawasan transmigrasi. Menurutnya, TEP dapat dikembangkan bukan sekadar sebagai program ekspedisi, melainkan sebagai ekosistem transfer pengetahuan dan inovasi yang berkelanjutan.
Ia mendorong agar kolaborasi tersebut terus diperkuat melalui transfer knowledge serta pengembangan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, ilmu pengetahuan, dan kemampuan inovasi.
“TEP diharapkan bisa berkesinambungan untuk berkolaborasi, transfer knowledge, dan menghadirkan sumber daya manusia yang mempunyai ilmu dan inovasi dalam rangka mempercepat eskalasi transformasi transmigrasi,” ujar Viva Yoga.
Menurutnya, kehadiran sumber daya manusia unggul di kawasan transmigrasi dapat memberikan efek yang lebih luas daripada sekadar menyelesaikan program tertentu. Interaksi antara akademisi dan masyarakat dapat melahirkan pertukaran pengetahuan, gagasan, energi kreatif, dan inovasi yang pada akhirnya mengubah cara masyarakat mengembangkan potensi wilayahnya.
“Di lapangan membuktikan ketika ada manusia-manusia unggul di kawasan transmigrasi, di sana ada transfer ilmu pengetahuan, semangat, energi, inovasi, kreasi, dan memberikan nilai yang berbeda dari sebelumnya,” pungkasnya.
Dengan demikian, monitoring dan evaluasi TEP 2026 tidak hanya menjadi instrumen untuk mengukur capaian program, tetapi juga menjadi momentum untuk memastikan pengetahuan, inovasi, dan hasil pendampingan para akademisi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan serta model pembangunan yang relevan dan berkelanjutan bagi kawasan transmigrasi.
(Arya RK)
dibaca

