Rajawali Kompas

Sumber Kelor Sukses Budidaya Pisang, Kuwat Slamet Andalkan Metode Komposting Sirkular


Pasuruan | Rajawalikompas.com – Keberhasilan budidaya pisang di kawasan Sumber Kelor mulai menarik perhatian warga dan petani setempat. Tanaman pisang yang dibudidayakan mampu tumbuh subur dengan produksi buah yang lebat dan kualitas yang baik, tanpa sepenuhnya bergantung pada penggunaan pupuk kimia.

Di balik keberhasilan tersebut terdapat praktik pertanian yang dikembangkan Kuwat Slamet, seorang praktisi pertanian lokal. Ia menerapkan konsep komposting sirkular, yakni mengolah kembali limbah organik yang tersedia di lingkungan sekitar untuk dikembalikan menjadi sumber bahan organik bagi tanah dan tanaman.

“Banyak warga yang bertanya-tanya mengapa pisang di sini bisa tumbuh seunggul ini, padahal perawatannya terlihat sederhana. Kami menerapkan sistem sirkular, yaitu mengembalikan apa yang berasal dari alam kembali ke alam,” ujar Kuwat Slamet.Kamis (24/09/2026)

Menurut Kuwat, pendekatan tersebut tidak membutuhkan bahan yang sulit diperoleh. Ia memanfaatkan tiga material utama yang banyak tersedia di lingkungan pedesaan, yakni jerami padi, gedebok pisang, dan cocopeat atau serabut kelapa. Ketiganya diolah dan dimanfaatkan sesuai karakteristik masing-masing untuk mendukung kondisi tanah dan pertumbuhan tanaman.

Gedebok pisang, misalnya, tidak dibiarkan menjadi limbah setelah tanaman selesai berproduksi. Batang pisang tersebut dicacah dan dimanfaatkan sebagai bahan organik. Material ini diketahui mengandung sejumlah unsur hara, termasuk kalium, yang merupakan salah satu nutrisi penting bagi tanaman pisang, terutama dalam mendukung proses pembentukan dan perkembangan buah.

Sementara itu, jerami padi dimanfaatkan sebagai bahan organik sekaligus mulsa di sekitar tanaman. Keberadaan mulsa membantu menjaga kelembapan tanah, mengurangi pertumbuhan gulma, serta melindungi permukaan tanah dari paparan langsung sinar matahari. Ketika terurai, jerami juga berkontribusi menambah bahan organik dan unsur hara ke dalam tanah.

Adapun cocopeat dari serabut kelapa digunakan untuk membantu mempertahankan kelembapan media di sekitar perakaran. Karakteristiknya yang mampu menyerap dan menahan air menjadikannya material yang bermanfaat dalam pengelolaan kelembapan tanah, terutama ketika tanaman menghadapi kondisi cuaca yang lebih kering.

Kuwat menjelaskan, inti dari metode tersebut bukan semata-mata pada penggunaan tiga bahan tersebut, melainkan pada bagaimana limbah pertanian dikelola sebagai bagian dari satu siklus. Sisa tanaman tidak dipandang sebagai sampah, tetapi dikembalikan ke lahan untuk memperkaya bahan organik dan mendukung kehidupan mikroorganisme tanah.

Proses penguraian bahan organik secara bertahap dapat membantu membangun lingkungan tanah yang lebih aktif secara biologis. Mikroorganisme berperan dalam menguraikan material organik sehingga sebagian unsur hara menjadi lebih tersedia bagi tanaman.

Pendekatan tersebut sekaligus menawarkan alternatif pengelolaan limbah pertanian di tingkat lokal. Jerami yang biasanya dibakar atau dibuang, serta gedebok pisang yang kerap menjadi limbah setelah panen, dapat dimanfaatkan kembali untuk menunjang produktivitas lahan.

Keberhasilan praktik yang dilakukan Kuwat Slamet di Sumber Kelor menjadi contoh bahwa pemanfaatan sumber daya lokal dapat menjadi bagian penting dalam membangun sistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Meski demikian, penerapan komposting sirkular tetap membutuhkan pengelolaan yang tepat, mulai dari komposisi bahan, proses penguraian, kelembapan, hingga kebutuhan hara tanaman. Penggunaan bahan organik juga idealnya disesuaikan dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman agar hasil yang diperoleh optimal.

Bagi petani di pedesaan, pendekatan seperti yang diterapkan Kuwat menunjukkan satu prinsip sederhana: limbah pertanian tidak selalu berakhir sebagai buangan. Dengan pengelolaan yang tepat, material tersebut dapat kembali menjadi bagian dari siklus produksi dan membantu menjaga kesuburan tanah.

Dari Sumber Kelor, praktik tersebut menjadi gambaran bahwa pertanian berkelanjutan dapat dimulai dari sumber daya yang tersedia di sekitar lahan sederhana, ekonomis, dan berbasis pada siklus alam.

(Hamim RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama