Ciamis | Rajawalikompas.com — Krisis air bersih masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memasuki awal September 2026. Kemarau panjang yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir menyebabkan sedikitnya 27 desa di 16 kecamatan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Berdasarkan data pemutakhiran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis per 26 Agustus 2026, dampak kekeringan telah dirasakan sekitar 4.600 kepala keluarga (KK) atau 11.972 jiwa yang tersebar di 44 dusun.
Hingga Jumat (4/9/2026), penanganan masih dilakukan melalui distribusi air bersih secara bergilir ke sejumlah wilayah terdampak. Warga yang menjadi penerima bantuan bahkan harus mengantre sejak pagi dengan membawa berbagai wadah, mulai dari jeriken, ember, drum plastik hingga tangki penampungan.
Kondisi cukup parah terjadi di Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari. Sebanyak 123 KK atau sekitar 310 jiwa terdampak kekeringan. Warga setempat mengaku sumur mereka telah mengering selama sekitar tiga pekan, sementara debit sejumlah sumber mata air terus mengalami penyusutan.
Situasi serupa terjadi di Dusun Nanggela Kidul dan Antralina, Desa Sumberjaya, Kecamatan Cihaurbeuti. Sekitar 110 KK di dua dusun tersebut kini sangat bergantung pada pasokan air bersih melalui distribusi yang dilakukan BPBD dan aparat kepolisian.
Data penanganan per 4 September 2026 menunjukkan kekeringan telah menyebar di sejumlah kecamatan. Di antaranya Kecamatan Tambaksari yang meliputi Desa Kaso Karangpanimbal, Sukasari, dan Tambaksari.
Di Kecamatan Banjaranyar, wilayah terdampak meliputi Desa Banjaranyar, Cigayam, Pasirjaya (Kijaya), dan Cikaso. Sementara di Kecamatan Banjarsari, kekeringan terjadi di Desa Kawasen, Cicapar, dan Cibadak.
Wilayah lainnya mencakup Kecamatan Cimaragas, yakni Desa Bojongmalang dan Beber; Kecamatan Cisaga di Desa Sidamulya dan Mangunjaya; serta Kecamatan Panawangan di Desa Kertajaya.
Untuk Kecamatan Cihaurbeuti, dampak kekeringan tercatat di Dusun Nanggela Kidul dan Antralina, Desa Sumberjaya. Adapun sembilan kecamatan lainnya masih menjalani proses pendataan dan pemutakhiran kondisi di lapangan.
BPBD menetapkan Tambaksari, Banjaranyar, dan Banjarsari sebagai wilayah prioritas dalam penanganan distribusi air bersih.
Pemerintah Kabupaten Ciamis bersama unsur terkait terus memperkuat upaya penanganan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
BPBD bersama Perumdam Tirta Galuh masih melakukan distribusi air bersih ke wilayah terdampak. Hingga saat ini, akumulasi bantuan yang telah disalurkan tercatat lebih dari 700 ribu liter dan menjangkau 16 kecamatan.
Dukungan juga datang dari Kodim 0613/Ciamis. Sebanyak tiga unit mobil pemadam kebakaran disiagakan untuk membantu mendistribusikan air, termasuk ke Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan, serta sejumlah titik yang membutuhkan penanganan darurat.
Dandim 0613/Ciamis Letkol Inf Antonius Ari Widiono menegaskan, pihaknya akan terus mendukung penanganan krisis air bersih bersama BPBD.
“Air bersih adalah kebutuhan paling mendasar. Kodim bersama BPBD akan terus hadir membantu warga selama musim kemarau,” ujarnya.
Sementara itu, unsur Polri, PMI, dan relawan turut dilibatkan dalam penanganan di lapangan. Polsek Cihaurbeuti, misalnya, melakukan pemantauan distribusi sebanyak 10.000 liter air bersih di wilayah Kecamatan Cihaurbeuti. PMI juga mengerahkan armada tangki untuk membantu masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.
Pemkab Ciamis masih memberlakukan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan hingga 30 September 2026. Status tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan unsur terkait untuk mempercepat langkah penanganan terhadap dampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, S.T., M.Si., mengatakan distribusi air dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan laporan dan kebutuhan dari masing-masing desa.
“Penyaluran dilakukan bertahap sesuai laporan dari desa. Kami mengimbau masyarakat bijak menggunakan air dan segera melapor ke BPBD jika ada wilayah baru yang mengalami kekeringan,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan di Ciamis bukan lagi sekadar berkurangnya debit air, tetapi telah menyentuh kebutuhan dasar ribuan warga. Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, kesinambungan distribusi air bersih dan pemantauan wilayah rawan kekeringan menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih luas.
(ARIF RK)
dibaca

