Rajawali Kompas

Mentan Amran Tinjau Kekeringan di Gresik, Dorong Reformasi Bantuan Alsintan untuk Buruh Tani

[Foto : Menteri Pertanian Andi Amran Di Dampingi Oleh Wagub Jawa Timur Emil Listianto Dardak Saat Di Desa Munggugianti]
Gresik | Rajawalikompas.com — Kekeringan yang melanda sejumlah lahan pertanian di Kabupaten Gresik mendapat perhatian langsung Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak dan Wakil Bupati Gresik dr. H. Asluchul Alif, Amran meninjau kondisi lahan terdampak di Dusun Munggu, Desa Munggugianti, Kecamatan Benjeng, Selasa (11/8/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari langkah mitigasi pemerintah menghadapi ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu produktivitas pertanian. Di lokasi, Mentan melihat secara langsung sejumlah komoditas yang terdampak, di antaranya tanaman padi, kedelai, kangkung dan tanaman pertanian lainnya.

Amran menyebut pihaknya telah menerima laporan mengenai kondisi kekeringan di Gresik yang berdampak pada lahan pertanian dengan luasan sekitar 200 hektare.

“Karena itu, kami melakukan mitigasi dan cek lokasi. Setelah melihat kondisi tersebut, kami langsung memberikan bantuan berupa mesin pompa air kepada petani,” ujar Amran.

Menurutnya, mitigasi menjadi langkah penting agar dampak kekeringan terhadap sektor pertanian tidak semakin meluas. Bantuan sarana pengairan diharapkan dapat membantu petani mempertahankan produktivitas lahan di tengah keterbatasan pasokan air.

Di tengah persoalan kekeringan, Amran juga menyoroti persoalan akses bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya bagi buruh tani yang selama ini tidak memiliki lahan sendiri.

Ia mengakui masih terdapat petani maupun buruh tani yang belum tersentuh bantuan pemerintah karena terkendala regulasi.

Kondisi tersebut, menurut Amran, perlu dibenahi agar bantuan pertanian tidak hanya dapat diakses oleh pemilik lahan, tetapi juga buruh tani yang secara langsung bekerja mengelola lahan pertanian.

“Karena itu, pihaknya berkomitmen akan merubah regulasi tersebut supaya buruh tani mendapatkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) berupa traktor dan mesin pompa,” jelasnya.

Amran mengatakan mekanisme pengajuan bantuan nantinya akan disederhanakan. Pengajuan dapat dilakukan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL), sehingga proses birokrasi diharapkan menjadi lebih cepat dan tidak menyulitkan masyarakat penerima.

“Cukup tanda tangan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL), pengajuan tersebut kami terima, saat itu juga bantuan alat mesin pertanian kita berikan,” katanya.

Selain meninjau lahan terdampak, Mentan Amran juga menyaksikan simulasi teknik pengeboran air menggunakan metode geolistrik di Desa Munggugianti.

Teknologi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu menemukan sumber air bawah tanah, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber air permukaan.

Pemanfaatan teknologi pencarian sumber air itu diharapkan dapat memperkuat upaya mitigasi kekeringan sekaligus menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian masyarakat.

Di lokasi yang sama, pemerintah juga menyalurkan bantuan alsintan berupa dua unit traktor kepada kelompok buruh tani perempuan. Bantuan tersebut diberikan kepada dua kelompok penerima.

Tak hanya alsintan, paket beras juga disalurkan kepada para buruh tani yang mayoritas merupakan perempuan. Mereka umumnya bekerja sebagai penggarap lahan milik orang lain dan tidak memiliki lahan pertanian sendiri.

Di tengah ancaman kekeringan, Amran menyampaikan bahwa stok beras di Jawa Timur berada pada level yang disebutnya tertinggi sepanjang sejarah, yakni sekitar 1,3 juta ton.

Namun, capaian tersebut menurutnya tidak boleh membuat pemerintah lengah. Ancaman kekeringan tetap harus diantisipasi melalui mitigasi dan intervensi yang cepat di tingkat lapangan.

“Kita tidak boleh cepat puas atau lengah dengan capaian tersebut, namun kita harus tetap melakukan mitigasi kekeringan,” tegasnya.

Kunjungan Mentan ke Gresik sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan pertanian tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menyangkut akses terhadap teknologi, sarana produksi, perlindungan terhadap buruh tani serta efektivitas kebijakan bantuan pemerintah.

Bagi buruh tani yang tidak memiliki lahan, akses terhadap alsintan menjadi persoalan penting. Karena itu, penyederhanaan regulasi sebagaimana disampaikan Mentan diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar dapat diwujudkan dalam mekanisme bantuan yang mudah diakses dan tepat sasaran.

Dengan kondisi cuaca yang semakin menantang, kecepatan pemerintah dalam melakukan mitigasi menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian sekaligus melindungi masyarakat yang menggantungkan penghidupannya dari sektor pertanian.

(Dwi RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama