![]() |
| [Foto : Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama 75 anggota Paskibraka Gresik 2026 usai pengukuhan, Kamis (13/8/2026).] |
Mereka bukan sekedar dipilih untuk berdiri di barisan kehormatan pada momentum peringatan kemerdekaan. Di balik seragam dan tugas mengibarkan Sang Merah Putih, terdapat proses panjang berupa seleksi, pendidikan, pembinaan, latihan fisik dan mental, hingga masa karantina yang menuntut disiplin serta tanggung jawab.
Para anggota Paskibraka yang berasal dari SMA, SMK, MA sederajat, serta Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Gresik tersebut kemudian mengucapkan Ikrar Putra Indonesia. Prosesi dilanjutkan dengan mencium bendera Merah Putih satu per satu, sebuah momentum yang menggambarkan ikatan pengabdian kepada bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dalam amanatnya menegaskan bahwa menjadi Paskibraka bukanlah sekadar kebanggaan personal. Tugas tersebut merupakan bentuk kehormatan sekaligus pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan melalui sikap dan perilaku, baik selama menjalankan tugas maupun setelah kembali ke lingkungan masyarakat.
"Kalian adalah putra-putri pilihan terbaik. Tugas mengibarkan bendera pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI bukan sekadar tugas seremonial, melainkan bentuk pengabdian nyata serta wujud kehormatan yang luar biasa kepada daerah, bangsa, dan negara," ujar Bupati Yani.
Menurutnya, pengalaman selama menjalani pendidikan, latihan hingga karantina harus menjadi bekal bagi para anggota Paskibraka untuk terus berkembang. Nilai kedisiplinan, kebersamaan, tanggung jawab dan semangat pantang menyerah diharapkan tidak berhenti setelah upacara selesai.
"Saya berharap hasil pendidikan, latihan maupun saat masa karantina yang telah dilaksanakan selama ini benar-benar menjiwai sikap dan perilaku kalian. Jadilah contoh dan teladan yang baik bagi pelajar serta generasi muda lainnya," pesannya.
Di balik pengukuhan tersebut, terdapat kisah yang turut memberi warna tersendiri. Tiga siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Gresik berhasil menembus seleksi dan menjadi bagian dari 75 Paskibraka tahun ini.
Capaian tersebut menjadi catatan penting bagi sekolah yang relatif baru tersebut. Mereka membuktikan bahwa kesempatan untuk berprestasi dapat diraih melalui kerja keras, disiplin dan kemauan untuk berkembang, terlepas dari keterbatasan fasilitas maupun latar belakang.
Salah satunya adalah Akmalindo Kurniawansah, siswa asal Bawean. Ia mengaku bangga mendapat kesempatan menjadi bagian dari pasukan yang akan mengibarkan Merah Putih pada HUT ke-81 RI tingkat Kabupaten Gresik.
"Mudah-mudahan prestasi ini dapat menjadi motivasi teman-teman yang lain untuk membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk meraih mimpi menyambut masa depan," tuturnya.
Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Paskibraka bukan hanya tentang ketepatan langkah, formasi, dan penghormatan di hadapan bendera. Lebih jauh, proses di dalamnya menjadi ruang pembentukan karakter generasi muda—tentang bagaimana disiplin ditempa, tanggung jawab dibangun, dan rasa cinta terhadap bangsa diwujudkan melalui tindakan nyata.
Pengukuhan kemudian ditutup dengan pemberian ucapan selamat dari Bupati Gresik bersama jajaran Forkopimda dan kepala organisasi perangkat daerah yang hadir. Suasana haru mewarnai prosesi tersebut.
Setelah pengukuhan, tugas besar telah menanti. Pada 17 Agustus 2026, ke-75 anggota Paskibraka akan berdiri di hadapan masyarakat Gresik membawa satu amanah yang tidak dapat diukur hanya dari lamanya prosesi upacara: memastikan Sang Merah Putih berkibar dengan kehormatan.
Bagi mereka, momentum itu bukan sekadar satu hari dalam kalender kemerdekaan. Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk membuktikan bahwa generasi muda Gresik mampu menjaga nilai perjuangan melalui disiplin, prestasi dan pengabdian.
(Dwi RK)
dibaca
