![]() |
| [Foto : Sangheyang Hamim berdiri nomor dua dari kanan ke kiri bersama kepala kelurahan jogosari, lintas media, Babinsa dan Tokoh masyarakat] |
Dalam wawancara bersama lintas media, Sangheyang Hamim menjelaskan bahwa Mbah Pandak merupakan sosok yang memiliki jejak panjang dalam perjalanan sejarah Nusantara. Menurutnya, nama Mbah Pandak telah diperbincangkan sejak akhir masa Kerajaan Singhasari.
Dikisahkan, Mbah Pandak memiliki peran dalam mempertemukan dan memfasilitasi hubungan antara Raden Wijaya dengan Arya Wiraraja. Hubungan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang melahirkan Kerajaan Majapahit, sekaligus mewarnai berbagai legenda yang berkembang di kawasan Alas Mojopahit.
Sangheyang Hamim juga menuturkan bahwa pada masa kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Mbah Pandak disebut memiliki keterkaitan dengan upaya penaklukan Bali. Dalam berbagai kisah tutur yang berkembang di masyarakat, Mbah Pandak dikaitkan dengan strategi Mahapatih Gajah Mada dalam menghadapi Kebo Iwa, tokoh kuat yang menjadi simbol perlawanan Kerajaan Bali saat itu.
Jejak kisah tersebut hingga kini masih hidup dalam tradisi masyarakat, khususnya di kawasan Sumber Tukel, Desa Suwayuwo, Kabupaten Pasuruan. Setiap tahunnya, masyarakat setempat masih melestarikan berbagai kegiatan seni dan budaya, termasuk penyelenggaraan tradisi Kebodanu yang diyakini memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah dan legenda Mbah Pandak.
Tidak hanya pada era Singhasari dan Majapahit, Sangheyang Hamim juga menyebut bahwa nama Mbah Pandak muncul dalam berbagai cerita yang berkembang pada masa Kesultanan Mataram. Sosok ini diyakini memiliki peranan dalam upaya mempersatukan wilayah Nusantara melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal.
Saat ini, perhatian terhadap sejarah dan budaya Mbah Pandak kembali tumbuh di kalangan masyarakat Pandaan. Berbagai kegiatan pelestarian budaya mendapat dukungan dari Pemerintah Kelurahan Jogosari, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, bersama sejumlah komunitas budaya dan insan media.
Melalui upaya tersebut, masyarakat berharap nilai-nilai sejarah, budaya, serta kearifan lokal yang diwariskan para leluhur dapat terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas bangsa.
(Redaksi)
dibaca
