![]() |
| [Foto : Ki Petrok Wahid pegang gunungan Semar disebuah acara] |
Menurutnya, filosofi yang terangkum dalam ungkapan:
"Semar Mbangun Kayangan, Menungso Mbangun Jiwo Lan Rogo, Yesus Kesalip Isa"
bukan sekadar rangkaian kalimat tradisional, melainkan pesan moral yang mengajarkan tentang tanggung jawab manusia, pentingnya pembangunan karakter, serta semangat persatuan di tengah keberagaman.
Dalam penafsirannya, "Semar Mbangun Kayangan" menggambarkan sosok Semar sebagai simbol kebijaksanaan, kerendahan hati, dan penjaga keseimbangan kehidupan. Semar dipandang sebagai figur yang mengingatkan manusia agar selalu menjaga harmoni, keadilan, serta nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, "Menungso Mbangun Jiwo Lan Rogo" mengandung pesan bahwa tugas utama manusia adalah membangun dirinya sendiri, baik secara jasmani maupun rohani. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas moral, etika, serta karakter masyarakatnya.
"Bangsa yang kuat lahir dari manusia-manusia yang memiliki jiwa yang baik, pikiran yang sehat, serta semangat untuk terus belajar dan memperbaiki diri," ujar Ki Petrok Wahid dalam pemaparannya.
Adapun ungkapan "Yesus Kesalip Isa" ditafsirkan sebagai simbol persaudaraan dan kesamaan nilai kemanusiaan yang diajarkan berbagai tradisi keagamaan. Filosofi tersebut mengajak masyarakat untuk melihat keberagaman sebagai kekuatan, bukan sebagai alasan perpecahan.
Pandangan tersebut mendapat apresiasi dari Sangheyang Hamim, yang menilai bahwa generasi masa kini masih memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa sebagai bagian dari identitas nasional.
Menurutnya, budaya tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat menjadi pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan berkeadaban.
"Ketika generasi muda memahami pentingnya membangun jiwa dan raga, mereka sedang mempersiapkan masa depan bangsa yang lebih baik. Dan ketika mereka mampu menjaga persatuan dalam keberagaman, mereka sedang memperkuat fondasi Indonesia sebagai bangsa yang besar," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai luhur tentang kebersamaan, gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air.
Kegiatan pelestarian budaya seperti ini dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi yang semakin cepat. Dengan memahami filosofi dan makna yang terkandung dalam warisan budaya, masyarakat diharapkan tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa budaya Nusantara bukan hanya warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan zaman. Melalui pelestarian budaya, pembangunan karakter, dan penguatan persatuan, Indonesia dapat terus melangkah maju tanpa kehilangan akar identitasnya sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab.
(Redaksi)
dibaca
