![]() |
| [Foto : Tokoh media dan budaya Nusantara berfoto bersama usai menerima penghargaan perdamaian dunia atas dedikasi dalam menjaga budaya, persatuan, dan nilai kemanusiaan] |
Namun penghormatan itu tidak berdiri sendiri. Dalam momentum yang sama, tepat pada 18 Agustus 2025 di Jawa Barat, The World Peace Committee turut memberikan penghargaan Perdamaian Budaya Dunia kepada tiga tokoh pers yang dinilai memiliki peran besar dalam menyebarluaskan nilai sejarah, budaya, dan perdamaian kepada masyarakat luas.
Tiga tokoh media tersebut adalah Sariyan selaku Pemimpin Redaksi Rajawali Kompas, Pujo Asmoro sebagai Pemimpin Redaksi Jurnal Jawapes yang kini berganti nama menjadi Jurnal Pers Nusantara, serta Maul Wahyuti yang menjabat sebagai Editor Jurnal Pers Nusantara.
Keempat nama tersebut tercatat berdampingan dalam dokumen resmi bernomor 9052/WCP/2025 dengan amanat mulia sebagai “penyebar keharmonisan antar sesama makhluk, menegakkan keadilan, memelihara lingkungan, mewujudkan persatuan dan menjaga hak kemanusiaan.”
Penghargaan ini menjadi penegasan bahwa perjuangan memperkenalkan Gunung Arjuno sebagai Induk Peradaban Dunia bukan hanya dilakukan oleh satu tokoh semata, melainkan menjadi gerakan kolektif yang diperkuat oleh peran insan pers sebagai penjaga narasi sejarah dan budaya bangsa.
Melalui pemberitaan, dokumentasi, dan tulisan yang konsisten, Rajawali Kompas serta Jurnal Pers Nusantara dinilai berhasil menjadi jembatan informasi yang membawa pesan-pesan budaya Nusantara hingga dikenal di tingkat internasional.
Bagi Sangheyang Hamim, penghargaan terhadap para tokoh media tersebut memiliki arti mendalam. Ia menilai pers bukan sekedar alat penyampai berita, tetapi bagian penting dalam menjaga jejak sejarah dan membangun kesadaran peradaban.
“Tanpa pena dan kerja keras kawan-kawan wartawan, sejarah besar ini mungkin hanya tersimpan diam di bukit-bukit Arjuno. Ini bukti bahwa pers dan budaya berjalan beriringan membangun peradaban,” ungkap Sangheyang Hamim.
Pengakuan dunia terhadap para tokoh media ini sekaligus menjadi simbol bahwa karya jurnalistik yang berpijak pada nilai budaya, kemanusiaan, dan pelestarian lingkungan tetap memiliki tempat terhormat di mata internasional.
Kini, nama Sangheyang Hamim bersama Sariyan, Pujo Asmoro, dan Maul Wahyuti tercatat dalam arsip perdamaian dunia sebagai bagian dari gerakan budaya global yang lahir dari Indonesia. Dari kaki Gunung Arjuno, pesan tentang persatuan, keharmonisan, dan peradaban terus bergema melintasi batas negara dan generasi.
(Redaksi Rajawali Kompas)
dibaca

