Rajawali Kompas

Tanaman Pranajiwa : Obat Suci Lereng Arjuna,Warisan Penyembuhan Dunia

[Foto : Guntur Bisowarno S.Si., Apt Ketua ASJI Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia juga Ketua Dewan Pakar Yayasan Jamu Nusantara Indonesia]
Pasuruan  | Rajawalikompas.com – Kawasan Gunung Arjuna kembali menampakkan keagungan karunia alam yang tersimpan di dalamnya. Melalui verifikasi data botani Kementerian Kehutanan serta laporan resmi dari Guntur Bisowarno dan Pronojiwo, keberadaan Tanaman Pranajiwa dikukuhkan secara sah sebagai kekayaan utama kawasan. Tanaman ini dikenal masyarakat lokal sebagai Penyambung Nyawa, tumbuhan langka yang tumbuh secara alami di ketinggian 1.200–1.800 mdpl, tepatnya tersebar di lereng Arjuno, Bromo hingga jalur pegunungan Himalaya dan Filipina.

Menurut catatan etnobotani Nusantara, nama Pranajiwa merujuk pada dua spesies sejenis namun berbeda karakteristik:

1. Euchresta horsfieldii Benn: Biji berasa pahit, dikenal sebagai penjernih darah dan obat utama gangguan paru-paru berat seperti TBC dan muntah darah.

2. Sterculia javanica R.Br: Dikenal sebagai Pranajiwa Manis, bijinya berminyak tinggi, berkhasiat sebagai penawar racun alami dan penguat energi vital tubuh.

Termasuk jenis perdu tegak setinggi ± 1 meter, tanaman ini tergolong langka dan sulit dibudidayakan, sehingga keberadaannya di alam liar menjadi bukti kesucian dan keseimbangan ekosistem Gunung Arjuna.

Dalam tradisi pengobatan Jawa yang diwariskan para sesepuh SPMAN, tanaman ini memiliki peran vital:

- Penyakit Dalam: Obat andalan untuk penyembuhan batuk kronis, gangguan dada, hingga keracunan makanan maupun gigitan hewan berbisa.

- Dimensi Spiritual: Di lingkaran ajaran Sangheyang Hamim dan Ki Tohari, nama Prana-Jiwa bermakna penyambung energi hidup dan kesadaran. Digunakan saat ritual Sarasehan Roso Orep untuk membuka jalur energi meditasi dan tirakat, mewujudkan keselarasan antara tubuh dan jiwa.

- Filosofi: Kesulitan mendapatkan tanaman ini mengajarkan bahwa ilmu dan kesehatan sejati butuh usaha, ketulusan, dan pengorbanan untuk meraihnya.

Keberadaan Pranajiwa bukan sekadar kekayaan hayati, melainkan inti dari konsep Manajemen Jiwa & Pemuliyaan Manusantara berbasis Etnobiosistem. Di bawah payung megaproyek senilai Rp 313 Triliun, tanaman ini akan dikembangkan secara terstruktur di kawasan Sumber Kelor Pasuruan menjadi pusat edukasi dan riset pengobatan tradisional internasional.

Pengelolaan mengacu prinsip Memayu Hayuning Bawana: memelihara kelestarian, menjaga kemurnian ramuan, dan hanya diolah dibawah pandangan ahli agar khasiat dan kesuciannya tetap terjaga.

Sangheyang Hamim, Presiden Repoeblik Ngopi sekaligus Duta Wisata Internasional menegaskan: "Gunung Arjuna adalah apotek hidup dunia. Di sini alam menyediakan obat bagi raga, dan nilai budayanya menjadi obat bagi jiwa manusia."

Bunda Sri Rahayu Pelopor pemersatu srikandi srikandi antar Gunung menambahkan, pengakuan ini adalah langkah nyata mengembalikan kejayaan ilmu pengobatan leluhur Nusantara ke panggung dunia.

 "Dari tanah Arjuna, tumbuhlah obat jiwa dan raga. Rahayu, Rahayu, Rahayu."

(Hamim RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama