![]() |
| [Foto ; Centang Buatan Asli Majapahit] |
Namun catatan sejarah justru menunjukkan fakta berbeda. Jauh sebelum bangsa Eropa datang dan mendirikan kolonialisme di tanah Jawa, Kerajaan Kekaisaran Majapahit telah memiliki kemampuan teknologi militer yang maju dan disegani. Salah satu buktinya adalah keberadaan cetbang, meriam kuno buatan Nusantara yang disebut-sebut memiliki teknologi melampaui zamannya.
Cetbang bukan sekadar senjata perang biasa. Benda ini menjadi simbol kecanggihan metalurgi, strategi militer maritim, dan kemampuan industri persenjataan yang berkembang di era kejayaan Majapahit.
Dalam berbagai kajian sejarah dan arkeologi, cetbang dikenal sebagai meriam berbahan perunggu dengan sistem pengisian dari belakang atau breech-loading, sebuah teknologi yang pada masa itu tergolong sangat maju.
Berbeda dengan meriam kuno pada umumnya yang diisi dari bagian depan laras, cetbang menggunakan kamar peluru terpisah sehingga proses pengisian amunisi menjadi jauh lebih cepat dan efisien di medan perang.
Teknologi ini menunjukkan bahwa para empu dan ahli logam Nusantara telah memahami sistem mekanik dan pengecoran tingkat tinggi. Cetbang diproduksi menggunakan campuran perunggu berkualitas yang tahan terhadap korosi air laut serta relatif aman digunakan dalam pertempuran maritim.
Sejumlah catatan menyebut pusat industri logam Majapahit berkembang di kawasan Blambangan hingga Rajekwesi, wilayah yang kini dikenal sebagai bagian dari Bojonegoro.
Selain peluru logam pembakar, cetbang juga dipercaya mampu melontarkan warastra, yakni proyektil menyerupai anak panah raksasa berujung besi yang dirancang untuk merobek lambung kapal lawan sekaligus memicu kebakaran.
Pada masa kejayaan Majapahit, kekuatan cetbang menjadi bagian penting dalam strategi armada laut kerajaan. Di bawah kepemimpinan tokoh besar seperti Gajah Mada dan Laksamana Nala, meriam-meriam tersebut dipasang di kapal perang Jung Jawa yang terkenal berukuran besar dan tangguh mengarungi samudra.
Setiap kapal membawa banyak cetbang yang dipasang menggunakan sistem putar atau swivel gun, memungkinkan penembakan ke berbagai arah dengan cepat. Keunggulan inilah yang membuat armada Majapahit mampu menguasai jalur perdagangan maritim dan menjaga stabilitas kawasan Nusantara hingga Asia Tenggara.
Dalam konteks sejarah maritim dunia, keberadaan cetbang memperlihatkan bahwa Nusantara bukan hanya pusat perdagangan rempah-rempah, tetapi juga pusat inovasi teknologi militer laut yang diperhitungkan.
Keberadaan cetbang tidak berhenti sebagai cerita legenda. Sejumlah artefak asli peninggalan Majapahit masih tersimpan dan menjadi koleksi penting di museum dunia maupun museum nasional Indonesia.
Salah satu koleksi terkenal berada di The Metropolitan Museum of Art atau The Met, Amerika Serikat. Museum tersebut menyimpan cetbang perunggu dari abad ke-15 yang pada bagian larasnya terpahat jelas lambang Surya Majapahit.
Sementara di Indonesia, jejak kejayaan teknologi ini dapat ditemukan di beberapa museum penting, di antaranya:
• Museum Bali yang menyimpan cetbang perunggu lengkap dengan simbol kosmologi dan lambang Surya Majapahit.
• Museum Majapahit Trowulan yang menyimpan fragmen persenjataan, cetakan logam, dan peninggalan industri metalurgi Majapahit.
• Museum Sejarah Jakarta yang memiliki koleksi meriam era peralihan kerajaan maritim Nusantara.
• Museum Nasional Indonesia yang menyimpan koleksi artileri kuno dan prasasti terkait kemampuan militer Nusantara masa lampau.
Sejarawan menilai runtuhnya Majapahit turut menyebabkan melemahnya sistem industri dan teknologi dalam negeri. Perpecahan politik membuat kemampuan manufaktur persenjataan Nusantara perlahan menghilang hingga akhirnya bangsa asing mendominasi teknologi militer di kawasan ini.
Kisah cetbang menjadi pengingat bahwa leluhur Nusantara memiliki kemampuan inovasi, keberanian, dan visi peradaban yang besar. Teknologi yang mereka hasilkan bukan hanya untuk perang, tetapi juga menjadi bukti bahwa bangsa ini pernah berdiri sejajar dengan kekuatan dunia.
Bagi generasi hari ini, sejarah cetbang bukan sekadar romantisme masa lalu. Lebih dari itu, ia menjadi sumber inspirasi untuk membangun kembali kemandirian, kreativitas, dan kepercayaan diri bangsa dalam menghadapi masa depan.
Salam literasi dan pelestarian sejarah dari keluarga besar Forum Masyarakat KCBN Trowulan Kabupaten Mojokerto dan Jombang untuk Rajawalikompas.
Rahayu.
(Hamim RK)
dibaca
