![]() |
| [Foto : Martiningsih Saat Di Kawasan Pura Agung Gunung Salak] |
Di bawah naungan megah lereng Gunung Salak yang dikenal sebagai salah satu kawasan spiritual dan historis tanah Sunda, kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan nilai persatuan budaya, spiritualitas, dan kebangsaan.
Hadir mewakili wadah Pasopati Cakra Nusa, Murtiningsih menyampaikan bahwa sembahyangan yang digelar bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan bentuk ikhtiar batin untuk menyatukan energi doa dari berbagai penjuru Nusantara.
Dalam balutan busana putih dan kain bernuansa keemasan yang melambangkan kesucian serta kemuliaan cita-cita, ia berdiri di pelataran pura dengan penuh keteduhan. Menurutnya, doa-doa yang dipanjatkan di kaki Gunung Salak memiliki makna mendalam bagi perjalanan spiritual dan kebudayaan bangsa.
“Kegiatan sembahyangan ini berlangsung sangat khidmat, penuh rasa syukur dan harapan. Kami memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar cita-cita memulihkan kembali kejayaan peradaban Nusantara senantiasa diberkahi dan dibukakan jalan,” ujar Murtiningsih.
Perempuan yang dikenal aktif menelusuri jejak budaya Nusantara itu menilai bahwa hubungan spiritual antara Gunung Salak dan Gunung Arjuna memiliki simbol persatuan peradaban lama Nusantara. Dari kawasan barat hingga timur Pulau Jawa, nilai-nilai luhur leluhur diyakini tetap hidup dan terus diwariskan lintas generasi.
Ia juga menyinggung gagasan besar “Muteri Kawasan Gunung Arjuna Induk Peradaban Dunia” yang selama ini dikembangkan oleh Sangheyang Hamim sebagai upaya membangun kesadaran sejarah, budaya, dan spiritual bangsa Indonesia.
Menurutnya, filosofi “Pitu/Pitutur” yang berkembang di wilayah Jawa Timur memiliki keselarasan dengan ajaran Sunda “Silih Asah, Silih Asuh, Silih Asih” yang diwariskan Karuhun Sunda sebagai dasar membangun harmoni kehidupan.
“Gunung Salak dan Gunung Arjuna adalah dua tiang penyangga ingatan bangsa. Doa yang dikumandangkan di sini menjadi penguat energi bagi pembangunan Istana Kerajaan Pariwisata Dunia agar kelak menjadi ruang persaudaraan seluruh anak manusia,” tambahnya.
Kegiatan tersebut juga disebut sebagai kelanjutan semangat spiritual dan kebudayaan yang pernah digaungkan dalam rangkaian doa kebangsaan di Candi Borobudur pada Mei 2018 silam.
Di akhir kegiatan, seluruh peserta bersama-sama memanjatkan harapan agar bangsa Indonesia senantiasa diberi keselamatan, persatuan, dan kekuatan dalam menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman modern.
Seruan “Rahayu, Rahayu, Rahayu” pun menggema dari kaki Gunung Salak, menjadi simbol doa damai dan kesejahteraan bagi seluruh Nusantara.
(Hamim RK)
dibaca

TOP
BalasHapus