Rajawali Kompas

Pasopati Cakra Nusantara Tegaskan Pentingnya Membedakan Budaya Luhur dan Praktik Menyesatkan

[Foto :Kolase Pernyataan Abdul Ghaffar Rozin dan PKB Jateng terkait kasus di Pati yang menegaskan pelaku bukan kiai, melainkan oknum berkedok dukun]
Pati | Rajawalikompas.com – Pasopati Cakra Nusantara kembali menegaskan pentingnya menjaga kemurnian nilai budaya dan spiritual Nusantara dari berbagai praktik yang dinilai menyimpang dan mencederai ajaran agama maupun nilai kemanusiaan. Penegasan tersebut disampaikan dalam forum kajian budaya internal menyusul mencuatnya kasus dugaan pencabulan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang melibatkan seseorang yang disebut menyalahgunakan atribut keagamaan untuk menjalankan praktik perdukunan.

Dalam forum tersebut, Pasopati Cakra Nusantara menyoroti pernyataan Abdul Ghaffar Rozin yang menegaskan bahwa pelaku dalam kasus tersebut bukanlah seorang kiai ataupun ulama, melainkan individu yang menggunakan simbol keagamaan untuk memperoleh kepercayaan masyarakat demi kepentingan pribadi.

Forum juga mengapresiasi sikap sejumlah tokoh dan jajaran PKB Jawa Tengah yang berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan tidak mencoreng nama baik pesantren maupun lembaga pendidikan Islam yang selama ini menjadi pusat pendidikan moral dan spiritual masyarakat.

Menurut Pasopati Cakra Nusantara, persoalan tersebut menjadi pengingat penting bahwa masyarakat harus mampu membedakan antara warisan budaya luhur yang mengandung nilai spiritual dan kemanusiaan dengan praktik-praktik manipulatif yang berkedok tradisi ataupun agama.

Dalam pernyataan resminya, forum menegaskan bahwa gerakan budaya dan spiritual yang selama ini dibangun melalui gagasan Muteri Kawasan Gunung Arjuna Induk Peradaban Dunia selalu berlandaskan nilai-nilai kebaikan universal.

Tiga prinsip utama yang ditegaskan dalam forum tersebut meliputi keseimbangan antara akal, rasa, dan karsa; keselarasan antara ajaran agama dengan kearifan lokal; serta tujuan mulia demi keselamatan dan kesejahteraan manusia, bukan untuk penyesatan ataupun kepentingan pribadi.

“Tempat peradaban dan budaya adalah ruang untuk mengajarkan kedamaian, kebijaksanaan, dan kebenaran. Praktik yang melanggar hukum, mencederai kemanusiaan, atau memanfaatkan kepercayaan masyarakat bukanlah bagian dari warisan leluhur, melainkan bentuk penyalahgunaan tradisi,” demikian pernyataan yang disampaikan dalam forum budaya Pasopati Cakra Nusantara.Rabo (13/05/2026)

Forum tersebut juga mengaitkan pentingnya menjaga kemurnian budaya dengan semangat ritual Ruwatan yang pernah digelar di kawasan Borobudur pada 10 Mei 2018. Ritual tersebut disebut sebagai bentuk ikhtiar spiritual dan doa keselamatan bangsa yang dilakukan secara tulus tanpa unsur kekerasan, penipuan, maupun eksploitasi terhadap masyarakat.

Bagi para pegiat budaya, nilai luhur tradisi Nusantara sejatinya mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia, keharmonisan dengan alam, serta penguatan moral dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Pasopati Cakra Nusantara berharap masyarakat semakin bijak dalam memahami budaya dan tidak mudah terpengaruh oleh praktik-praktik yang mengatasnamakan spiritualitas namun bertentangan dengan hukum, agama, dan nilai kemanusiaan.

“Lestarikan budaya yang memuliakan manusia, dan tinggalkan segala bentuk kepalsuan yang berkedok tradisi. Rahayu, Rahayu, Rahayu  semoga kita selalu diberi kejernihan hati dalam membedakan jalan kebenaran dan jalan kesesatan,” tutup pernyataan forum.

(Redaksi RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama