Rajawali Kompas

Kawula Alit Ngruwat Nagari: Doa dari Punjer Borobudur yang Diyakini Menjadi Ikhtiar Penyelamatan Nusantara

[Foto : Ritual Kawula Alit Ngruwat Nagari Di Kawasan Candi Borobudur]
Magelang | Rajawalikompas.com – Nilai-nilai spiritual dan budaya leluhur Nusantara kembali menjadi perhatian publik setelah kisah ritual Kawula Alit Ngruwat Nagari yang digelar di kawasan Candi Borobudur pada 10 Mei 2018 kembali dikenang oleh para pegiat budaya. Ritual tersebut diyakini sebagai bentuk ikhtiar batin untuk memohon keselamatan bangsa jauh sebelum dunia dilanda pandemi COVID-19.

Kegiatan budaya yang berada di bawah naungan Mataram Jaya Binangun itu menghadirkan sejumlah sesepuh budaya seperti Mbah Seno, Mbah Lawu, Mbah Tejo Lelono, dan Mbah Lasdi. Mereka disebut memiliki kepekaan spiritual terhadap datangnya masa Kolobendu, sebuah fase yang dipercaya sebagai pertanda munculnya bencana besar dan penderitaan umat manusia.

Sri Rahayu, penggerak budaya Mataram Jaya Binangun yang turut terlibat dalam persiapan acara, mengungkapkan bahwa ritual tersebut dilandasi niat tulus untuk memohon perlindungan bagi Nusantara melalui doa-doa bersama dan pendekatan spiritual budaya Jawa.

“Saat itu banyak yang menganggap ruwatan sebagai sesuatu yang kuno dan tidak masuk akal. Namun kami percaya, manusia wajib melakukan ikhtiar lahir maupun batin. Semua tetap atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar Sri Rahayu saat ditemui kontributor Rajawali Kompas di kawasan Borobudur.Rabo (13/05/2026).

Ritual Ngruwat Nagari dilaksanakan dengan berbagai prosesi adat yang sarat makna, mulai dari membuang sengkolo, menyingkirkan sukerto, hingga tolak balak sebagai simbol pembersihan energi buruk yang diyakini dapat mengganggu keselamatan bangsa.

Pemilihan Candi Borobudur sebagai lokasi ritual juga bukan tanpa alasan. Menurut Sri Rahayu, Borobudur dipercaya sebagai Punjer atau titik pusat energi spiritual yang memiliki kekuatan besar dalam tradisi leluhur Nusantara.

“Borobudur diyakini sebagai tempat yang sangat sakral. Di sinilah doa-doa kawula alit dipanjatkan agar didengar oleh kekuatan alam semesta dan menjadi pengingat bahwa manusia harus selalu menjaga keseimbangan dengan alam dan Sang Pencipta,” jelasnya.

Setahun setelah ritual tersebut dilaksanakan, dunia benar-benar menghadapi pandemi COVID-19 yang mengguncang hampir seluruh negara. Bagi para pelaku budaya, kejadian itu dianggap sebagai bukti bahwa leluhur Nusantara memiliki ketajaman batin dalam membaca tanda-tanda zaman.

Meskipun pandemi tetap terjadi, Sri Rahayu meyakini bahwa doa dan ikhtiar spiritual yang dilakukan para sesepuh budaya menjadi bagian dari upaya menjaga Nusantara agar terhindar dari dampak yang lebih besar.

Ia juga menilai bahwa nilai-nilai spiritual yang diwariskan leluhur memiliki keterkaitan dengan visi besar pembangunan peradaban yang digaungkan Sangheyang Hamim melalui gagasan kawasan Gunung Arjuna sebagai pusat kebangkitan budaya dan kesadaran Nusantara.

“Peradaban bukan hanya membangun fisik, tetapi juga membangun kesadaran jiwa, budaya, dan hubungan manusia dengan Tuhan serta alam semesta,” tuturnya.

Di tengah modernisasi dan perkembangan teknologi, kisah Kawula Alit Ngruwat Nagari menjadi pengingat bahwa budaya leluhur masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama sebagai sumber nilai, spiritualitas, dan persatuan bangsa.

“Rahayu, Rahayu, Rahayu. Semoga jejak kebijaksanaan leluhur tetap menjadi cahaya bagi generasi mendatang,” pungkas Sri Rahayu.

Redaksi Rajawali Kompas

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama