Rajawali Kompas

Pagelaran Wayang Kulit 3 Hari 3 Malam di Trowulan, Spirit Budaya Nusantara Dihidupkan Kembali

Trowulan | Rajawalikompas.com — Semangat pelestarian budaya dan kebangkitan nilai-nilai luhur Nusantara akan mewarnai gelaran akbar Pagelaran Wayang Kulit 3 Hari 3 Malam yang diselenggarakan pada 19 hingga 21 Juni 2026 di kawasan Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan (PPST), Mojokerto, Jawa Timur.

Kegiatan budaya tersebut menjadi momentum penting dalam merawat warisan leluhur sekaligus mempererat persatuan masyarakat lintas generasi melalui seni, tradisi, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Acara istimewa ini menghadirkan empat dalang dari lintas generasi, yakni Ki Sutris, Ki Didik Sasmito Aji, Ki Bagus Wahyu, dan Ki Pasa Raskha Syailendra. Kehadiran para dalang tersebut menjadi simbol kesinambungan budaya Nusantara yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Pagelaran wayang kulit tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarana penyampaian nilai moral, filosofi kehidupan, serta ajaran kebijaksanaan yang selama ini menjadi bagian penting dalam budaya Jawa dan peradaban Nusantara.

Salah satu agenda utama dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah prosesi Meruwat Patung Batu Dwarapala setinggi empat meter yang sarat nilai simbolis sebagai penjaga budaya, pelindung alam, dan lambang keteguhan menjaga warisan leluhur.

Momentum tersebut sekaligus menjadi peresmian Yayasan “Aji Soko Bumi Nguripi”, sebuah gerakan budaya dan sosial yang bertujuan menjaga nilai-nilai luhur, kelestarian alam, serta memperkuat kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.

Berbagai kegiatan budaya dan sosial turut mewarnai acara, mulai dari jamasan pusaka, ruwaatan sukerto sukerti, santunan sosial untuk anak yatim dan janda, pengambilan tirto suci dari sembilan mata air, tumpengan, tembang macapat, hingga bakti sosial terapi kesehatan bagi masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut menggambarkan kuatnya semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap tradisi yang masih terjaga di tengah perkembangan zaman modern.

Selain dihadiri tokoh budaya dan masyarakat, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai organisasi, paguyuban, dan komunitas lintas daerah yang memiliki visi sama dalam menjaga keberlangsungan budaya Nusantara.

Melalui kegiatan tersebut, panitia berharap nilai-nilai budaya leluhur tidak hanya menjadi kenangan sejarah, tetapi mampu terus hidup sebagai pedoman dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, berkarakter, dan berkeadaban.

Dengan mengusung semangat “Rahayu Kamulyaning Jagad”, kegiatan budaya ini diharapkan menjadi ruang pemersatu masyarakat sekaligus pengingat bahwa warisan budaya Nusantara merupakan identitas bangsa yang harus dijaga bersama demi generasi mendatang.

(Hamim RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama