![]() |
| [Foto : Ilustrasi kunjungan sang duta wisata ke Korban Mahameru] |
Situasi di kawasan terdampak terlihat mencekam. Sejumlah titik pemukiman dan akses jalan mengalami kerusakan akibat terjangan material vulkanik. Warga bersama relawan tampak berjibaku melakukan evakuasi, sementara aparat gabungan terus memperkuat penanganan darurat di lapangan.
Gunung Mahameru dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Dalam catatan sejarah geologi, aktivitas erupsi Semeru telah berlangsung sejak ratusan tahun silam dan menjadi bagian dari dinamika alam di wilayah Jawa Timur.
Beberapa letusan besar yang tercatat di antaranya terjadi pada tahun 1818, kemudian periode 1941–1942 yang membentuk Kawah Jonggring Saloko sebagai pusat aktivitas vulkanik utama. Erupsi besar juga terjadi pada 2021 yang mengubah morfologi puncak gunung dan membawa material hingga kawasan pemukiman warga. Aktivitas vulkanik kembali meningkat pada 2024 dengan lontaran abu dan lava panas yang menjangkau berbagai wilayah di sekitar lereng Semeru.
Bagi masyarakat Jawa, Mahameru bukan hanya dipandang sebagai gunung berapi biasa. Dalam berbagai naskah kuno dan kepercayaan leluhur, Mahameru diyakini sebagai gunung suci, simbol poros keseimbangan alam sekaligus bagian penting dari peradaban spiritual Nusantara.
Di tengah situasi kemanusiaan tersebut, hadir sosok Sangheyang Hamim Presiden Repoeblik Ngopi sekaligus Duta Wisata Internasional Muteri Kawasan Gunung Arjuna Induk Peradaban Dunia. Kehadiran beliau di Curah Koboan disebut sebagai bentuk solidaritas budaya dan kemanusiaan antarwilayah pegunungan suci di tanah Jawa.
Dalam kunjungannya, Sangheyang Hamim menegaskan bahwa Gunung Arjuna dan Gunung Mahameru memiliki keterkaitan historis, spiritual, dan ekologis yang tidak dapat dipisahkan dalam pandangan budaya Nusantara.
“Kami datang bukan sekadar sebagai tamu, melainkan saudara seperjalanan. Apa yang terjadi di Mahameru adalah bagian dari dinamika alam yang harus dihormati bersama. Solidaritas adalah inti dari filosofi Muteri, merajut kembali apa pun yang terurai,” ujarnya di lokasi bencana.
Suasana di kawasan Curah Koboan tampak dipenuhi aktivitas kemanusiaan. Kendaraan bantuan dari berbagai daerah berjejer di sepanjang jalur evakuasi. Sejumlah perusahaan nasional hingga lembaga internasional mendirikan posko bantuan yang menyediakan makanan, obat-obatan, air bersih, hingga kebutuhan dasar bagi warga terdampak.
Di saat yang sama, beberapa pejabat pemerintahan pusat juga terlihat melakukan peninjauan langsung menggunakan helikopter untuk memastikan proses evakuasi dan distribusi logistik berjalan maksimal.
Sangheyang Hamim turut menekankan pentingnya penanganan bencana yang tidak hanya berorientasi pada aspek teknis, tetapi juga menghormati nilai-nilai kearifan lokal masyarakat lereng gunung. Menurutnya, pendekatan Memayu Hayuning Bawana perlu menjadi dasar dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Kehadiran tokoh budaya di tengah situasi kebencanaan dinilai menjadi simbol bahwa nilai kemanusiaan, solidaritas, dan spiritualitas tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan modern.
Dari kaki Gunung Arjuna menuju Mahameru, pesan yang dibawa tetap sama tentang persaudaraan, kepedulian, dan kekuatan untuk bangkit bersama di tengah ujian alam.
“Rahayu, Rahayu, Rahayu Bersama kita kuat, terpisah kita lemah.”
(Redaksi)
dibaca
