Rajawali Kompas

Masyarakat Tolak Rencana “Metatu Bersholawat”, Soroti Isu Sejarah dan Arkeologi Nusantara


[Foto : Poster kegiatan “Metatu Bersholawat” dalam rangka peringatan HUT ke-11 PT. Metatu Nusantara Jaya yang dijadwalkan berlangsung pada 1 Juni 2026 di Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik]
Jawa Timur | Rajawalikompas.com – Rencana pelaksanaan kegiatan “Metatu Bersholawat” dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-11 PT. Metatu Nusantara Jaya yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 1 Juni 2026, menuai perhatian dari sejumlah elemen masyarakat. Aspirasi yang berkembang tersebut bukan ditujukan terhadap tradisi sholawat sebagai bentuk kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan lebih pada kekhawatiran terhadap penggunaan panggung-panggung publik yang dinilai perlu lebih peka terhadap persoalan sejarah, budaya, dan peninggalan arkeologi Nusantara.

Beberapa tokoh masyarakat dan pemerhati sejarah menyampaikan bahwa belakangan muncul keresahan terkait dugaan manipulasi narasi sejarah dan situs arkeologi oleh oknum tertentu yang mengatasnamakan garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Menurut mereka, hingga saat ini belum terdapat klarifikasi maupun permintaan maaf terbuka yang dianggap memadai kepada masyarakat, khususnya masyarakat Pribumi Nusantara yang merasa warisan sejarah leluhurnya diperlakukan secara tidak semestinya.

Dalam pandangan mereka, kegiatan keagamaan yang melibatkan figur publik seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai agenda seremonial semata, tetapi juga harus mempertimbangkan sensitivitas sosial, kebudayaan, dan sejarah bangsa. Mereka berharap penyelenggara mampu membaca dinamika kegelisahan publik terkait dugaan pengaburan narasi sejarah dan arkeologi yang dinilai dilakukan dengan membawa legitimasi simbol-simbol agama.

Salah satu poin yang menjadi sorotan ialah dugaan manipulasi nama-nama nisan di kompleks pemakaman Sunan Bonang. Bagi masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sejarah Islam Nusantara, makam para wali dan situs peninggalan Islam Jawa bukan sekadar lokasi ziarah, melainkan bagian penting dari identitas dan jejak peradaban bangsa. Karena itu, setiap bentuk perubahan, penafsiran, maupun klaim terhadap situs-situs tersebut dinilai harus dilakukan secara terbuka, ilmiah, hati-hati, serta menghormati masyarakat pemilik warisan budaya.

Keresahan serupa juga disampaikan terkait kompleks pemakaman Sunan Muria. Masyarakat menilai bahwa apabila benar terdapat tindakan yang mengarah pada manipulasi situs sejarah para wali, maka persoalan tersebut harus mendapat perhatian serius dari seluruh pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, budayawan, tokoh agama, hingga penyelenggara kegiatan keagamaan. Mereka menegaskan bahwa langkah klarifikasi, permintaan maaf, serta pemulihan narasi sejarah menjadi penting demi menjaga kepercayaan publik terhadap pelestarian sejarah bangsa.

Selain isu arkeologi, sebagian masyarakat juga menyoroti penggunaan label “keturunan Nabi” yang dalam praktik sosial kerap membuat sebagian umat menjadi terlalu permisif terhadap figur tertentu. Padahal, menurut mereka, penghormatan kepada siapa pun tidak boleh menghilangkan sikap kritis, terlebih jika menyangkut kebenaran sejarah, martabat bangsa, dan kelestarian peninggalan peradaban Nusantara.

“Mencintai Nabi Muhammad SAW seharusnya diwujudkan melalui akhlak, kejujuran, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, serta tanggung jawab menjaga kebenaran,” ungkap salah satu perwakilan masyarakat.

Atas dasar itu, permintaan peninjauan ulang terhadap acara tersebut diharapkan dipahami sebagai bentuk kepedulian terhadap sejarah dan peradaban bangsa, bukan sebagai penolakan terhadap tradisi sholawat ataupun kelompok tertentu. Masyarakat berharap PT. Metatu Nusantara Jaya dapat membuka ruang dialog yang sehat, mendengar aspirasi publik secara bijaksana, serta memastikan bahwa kegiatan keagamaan tidak menjadi ruang bagi penguatan narasi yang dinilai berpotensi mengaburkan sejarah Nusantara.

Sikap kritis masyarakat tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga marwah bangsa, menghormati para leluhur, dan memastikan generasi mendatang tetap mewarisi sejarah yang jujur, adil, dan bermartabat.

(Redaksi)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama