Rajawali Kompas

Murtiningsih Tegaskan Nilai Luhur Nusantara Menjadi Perekat Persatuan dari Gunung Salak hingga Gunung Arjuna

[Foto : Murtiningsih Srikandi Jagad Raya Pegiat Budaya Nusantara]
Bogor | Rajawalikompas.com – Gagasan besar program Muteri Kawasan Gunung Arjuna Induk Peradaban Dunia yang digagas Sangheyang Hamim, Presiden Repoeblik Ngopi sekaligus Duta Wisata Internasional, terus mendapat perhatian dari berbagai pegiat budaya Nusantara. Kali ini, dukungan dan pernyataan resmi datang dari Murtiningsih, Srikandi Jagad Raya sekaligus pegiat budaya Nusantara asal Imogiri, kelahiran 18 November 1960.

Dalam pertemuan budaya yang digelar di Kota Bogor dan dihadiri para pemangku adat, seniman, serta tokoh masyarakat Bogor Raya, Murtiningsih menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar proyek kawasan, melainkan simbol persatuan nilai luhur bangsa Indonesia yang berakar dari peradaban Nusantara.

“Kita ingat, tanah Pasuruan adalah akar, namun nilai yang tumbuh di sana adalah milik seluruh Nusantara. Seperti halnya Gunung Salak bagi masyarakat Bogor, Gunung Arjuna menjadi simbol pemersatu jejak peradaban dari barat hingga timur Pulau Jawa,” ujar Murtiningsih dalam pertemuan budaya di Balai Budaya Pakuan, Bogor.

Menurutnya, semangat yang dibangun dalam program tersebut memiliki keterhubungan erat dengan filosofi budaya Sunda maupun budaya Jawa yang sama-sama menjunjung keseimbangan akal, hati nurani, dan kebersamaan sosial.

Murtiningsih juga menjelaskan makna filosofis tujuh wilayah utama yang menjadi bagian penting dalam gagasan tersebut, yakni Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Kediri, Blitar, serta Malang-Batu. Angka tujuh atau Pitu, kata dia, mengandung makna Pitutur, Wewarah, dan Pepeling yang menjadi simbol amanat luhur kehidupan masyarakat Nusantara.

“Filosofi Repoeblik Ngopi yang dimaknai sebagai Konsentrasi Pikir serta Ngoneksi Pikir, Ngolah Roso lan Pikiran sangat sejalan dengan ajaran karuhun Sunda yakni Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Asih. Semua bermuara pada persatuan, kebijaksanaan, dan keseimbangan hidup,” jelasnya.

Program pembangunan yang disebut bernilai Rp313 triliun tersebut dinilai bukan hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan infrastruktur, melainkan juga membangun kembali kesadaran kolektif bahwa bangsa Indonesia memiliki akar budaya besar yang saling terhubung dari generasi ke generasi.

Nilai-nilai perjuangan seperti Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Tuntas hingga Tut Wuri Handayani disebut memiliki keselarasan dengan semangat Hayu-Hayu yang hidup dalam budaya masyarakat Bogor sebagai simbol gotong royong dan kebersamaan dalam membangun bangsa.

Acara kemudian ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara pegiat budaya Bogor dan tim penggerak program Muteri Kawasan Gunung Arjuna. Penandatanganan tersebut menjadi simbol penguatan kerja sama budaya lintas daerah sekaligus komitmen menyebarkan pesan perdamaian, kebijaksanaan, dan persatuan Nusantara kepada dunia internasional.

Dalam penutupan acara di kawasan Kebun Raya Bogor, Murtiningsih kembali menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai fondasi masa depan bangsa.

“Peradaban Nusantara harus menjadi cahaya yang menyatukan, bukan memisahkan. Dari Gunung Salak hingga Gunung Arjuna, kita membawa pesan damai dan kebijaksanaan untuk dunia,” pungkasnya.

(Redaksi/Hamim RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama