Rajawali Kompas

Gus Kholil Bin Sarpin : Sosok Spiritual,Budayawan Dan Pelindung Yang Tak Pernah Memandang Derajat

[Foto : Gus Kholil bin Sarpin alias Tabib Gendeng Sibolangit mengenakan Topi laken]
Pasuruan| Rajawalikompas.com -  Di tengah riuhnya kehidupan modern, masih ada sosok yang berdiri teguh menjaga nilai luhur, merawat budaya, dan menyalurkan kasih sayang tanpa batas. Ia adalah Gus Kholil bin Sarpin, yang akrab disapa Tabib Gendeng Sibolangit. Berasal dari Dusun Lumangsih, Ketan Ireng, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, sosok ini dikenal luas sebagai spiritualis, seniman, dan budayawan Nusantara yang kiprahnya telah menembus batas wilayah dan status sosial.

Sebagai pendiri Yayasan dan Padepokan Gemah Qolbu, nama Gus Kholil telah menjadi rujukan utama bagi ribuan pencari ilmu dan ketenangan. Di bawah bimbingan dan ajarannya, sedikitnya 5.000 hingga 10.000 santri tersebar di seluruh penjuru Nusantara, belajar bukan hanya soal ilmu agama, tetapi juga pembinaan mental, spiritual, dan karakter manusia yang luhur.

Yang menjadikan Gus Kholil sosok istimewa adalah cara pandang dan tindakannya di tengah masyarakat. Baginya, kemanusiaan adalah prioritas utama. Program-program sosial beliau sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari, berfokus pada pengentasan kemiskinan, perlindungan anak yatim, perhatian pada gelandangan, pemenuhan kebutuhan janda miskin, hingga pembinaan mereka yang memiliki keterbatasan mental.

 "Persahabatan tak memandang rupa dan harta, Tak bertanya siapa dirimu sebenarnya,karena  sahabat hadir dengan rasa yang sama, Menyatukan dua jiwa dalam setia dan cinta."

Kalimat indah itu adalah cerminan nyata dirinya. Di hadapan Gus Kholil, tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin, antara pejabat dan rakyat biasa. Tamu yang datang ke padepokannya beragam: mulai dari kaum yang terlantar, masyarakat pinggiran, hingga tokoh-tokoh teras bangsa. Semua disambut sama ramahnya, didengarkan keluh kesahnya, dan diajak berdiskusi sesuai kebutuhan masing-masing. Baginya, setiap manusia memiliki harga diri dan hak yang sama untuk dihargai dan dibantu.

Gus Kholil percaya bahwa seni adalah bahasa universal yang bisa menyatukan banyak hati. Salah satu karya besar yang masih beliau bina dan rawat hingga kini adalah kesenian Bantengan Turonggo Seto Kinasih.

 Kesenian ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sarana komunikasi tak terbatas. Melalui dentuman, gerakan, dan irama, Gema Qolbu atau getaran jiwa dan pesan kebaikan tersampaikan ke masyarakat luas  baik yang berada di dalam Pulau Jawa maupun di luarnya, menyatukan semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 Tak berhenti di situ, kreativitas beliau terus berkembang. Turonggo Seto Kinasih kini juga hadir dalam wujud Seni Sholawatan, yang memadukan keindahan musik gamelan tradisional dengan lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Perpaduan ini menjadi sangat unik dan mendalam, berfungsi membangkitkan semangat sekaligus menumbuhkan nilai-nilai keislaman yang damai, berbudaya, dan berkelanjutan di hati setiap penikmatnya.

Gus Kholil bin Sarpin adalah bukti hidup bahwa:

 - Agama dan budaya bisa berjalan beriringan, saling menguatkan.

- Kekuatan spiritual harus dibarengi dengan aksi nyata membantu sesama.

- Seni adalah sarana dakwah dan pendidikan yang paling lembut namun menembus jiwa.

 Beliau adalah penjaga gerbang kearifan lokal, pemersatu bangsa, dan ayah bagi mereka yang membutuhkan sandaran. Sosok yang mengajarkan: Bahwa menjadi besar itu bukan karena jabatan atau harta, tapi karena seberapa besar manfaat yang kita berikan bagi kehidupan orang lain.

(Hamim RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama