![]() |
| [Foto : Guntur Bisowarno dan Sangheyang Hamim berpose bersama koleksi buku di Perpustakaan HORAIZO Klasik, kawasan Gunung Arjuno.] |
Tokoh budayawan Jawa Timur, Guntur Bisowarno, menilai Sangheyang Hamim sebagai figur visioner yang memiliki gagasan besar dalam mengangkat Gunung Arjuno ke panggung global. Menurutnya, kawasan ini bukan sekedar bentang alam, melainkan ruang hidup yang menyimpan memori panjang peradaban Nusantara.
Pandangan tersebut turut diperkuat oleh Djuyoto Suntani dari The World Peace Committee, yang disebut memberikan apresiasi terhadap kecerdasan serta visi kebudayaan yang diusung Sangheyang Hamim.
Selama lebih dari dua dekade, Sangheyang Hamim disebut konsisten mempromosikan kawasan Gunung Arjuno sebagai “induk peradaban dunia”. Melalui perannya sebagai Presiden Repoeblik Ngopi dan duta wisata internasional, ia membangun narasi bahwa kawasan ini memiliki potensi menjadi pusat pertemuan budaya global.
Di sisi lain, Guntur Bisowarno mengembangkan konsep HORAIZO Klasik, sebuah gagasan filosofis yang memadukan dimensi waktu dan peradaban. Istilah “HORAIZO” dimaknai sebagai simbol keabadian waktu ruang yang menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan sementara “Klasik” menegaskan nilai luhur warisan leluhur yang tak lekang oleh zaman.
Konsep “baru kuno modern” yang diusung menjadi fondasi utama ,nilai kuno sebagai akar tradisi dan naskah peradaban,unsur modern melalui pemanfaatan teknologi dan sistem pengetahuan kontemporer,serta aspek baru sebagai ruang inovasi yang melahirkan gagasan masa depan.
“Perpustakaan ini tidak hanya menjadi tempat menyimpan pengetahuan, tetapi menjadi pusat peradaban yang hidup dan terus bergerak,” ujar Guntur dalam keterangannya, Selasa (7/4/2025).
Dalam kerangka besar tersebut, Perpustakaan HORAIZO Klasik diproyeksikan menjadi jantung kawasan ruang temu antara ilmu, budaya, dan spiritualitas yang selaras dengan gagasan pembangunan Istana Kerajaan Pariwisata Dunia. Keduanya diharapkan menjadi magnet yang mampu menarik perhatian akademisi, peneliti, hingga wisatawan mancanegara.
Secara historis, kawasan Gunung Arjuno memang memiliki kedalaman nilai budaya. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas spiritual pada masa Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Singhasari, dengan jejak situs-situs purbakala yang masih tersebar di berbagai titik.
Namun demikian, sejumlah konsep seperti Repoeblik Ngopi, HORAIZO Klasik, maupun Istana Kerajaan Pariwisata masih memerlukan penguatan dari sisi akademik, dokumentasi ilmiah, serta dukungan lintas sektor agar dapat berkembang dari narasi visioner menjadi realitas yang berkelanjutan.
Guntur menegaskan, kolaborasi ini diarahkan untuk membangun destinasi wisata berbasis peradaban yang melibatkan masyarakat lokal sekaligus jejaring global. Ia menggambarkan kawasan tersebut sebagai ruang harmoni, “di mana siapa pun dapat merasakan kedekatan layaknya berada di kampung sendiri sebuah gambaran surga dunia yang hidup dalam kebudayaan.”
Dengan perpaduan antara nilai sejarah, kekuatan budaya, dan visi masa depan, sinergitas Gunung Arjuno melalui HORAIZO Klasik menjadi cermin dari upaya membangun kembali identitas peradaban bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan kembali dalam denyut zaman.
(Redaksi RK)
dibaca

