Rajawali Kompas

Menu Omprengan Dinilai Mubazir, SMK Tekstil Pandaan Usulkan Skema Baru Program Gizi Siswa


[Foto : Rahmad Kepala sekolah SMK TEKSTIL PANDAAN]
Pasuruan | Rajawalikompas.com – Efektivitas program penyediaan makanan bergizi bagi siswa kembali menjadi sorotan. Kepala SMK Tekstil Pandaan, Rahmad, mengusulkan perubahan menu dari pola “ompreng” (nasi lengkap dengan lauk) menjadi alternatif yang lebih praktis seperti roti, sereal, dan susu.

Usulan ini bukan tanpa alasan. Di lapangan, menu ompreng dinilai kerap menyisakan makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa, sehingga berpotensi menimbulkan pemborosan.

“Kami melihat banyak makanan tidak termakan dan akhirnya terbuang. Ini tentu kurang efektif, baik dari sisi anggaran maupun tujuan program itu sendiri,” ujar Rahmad.Senin (13/04/2026).

Menurutnya, penggantian menu menjadi lebih sederhana tidak serta-merta mengurangi nilai gizi. Justru, dengan pola yang lebih ringan dan praktis, konsumsi siswa diharapkan lebih optimal tanpa menghasilkan limbah makanan.

Di sisi lain, tantangan juga datang dari aspek pengadaan bahan, khususnya susu. Anjar, pengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pasuruan, mengungkapkan bahwa harga susu saat ini mengalami kenaikan signifikan.

Kondisi tersebut membuat pengelolaan anggaran per porsi semakin ketat, sementara standar gizi yang ditetapkan pemerintah tetap harus dipenuhi.

“Harga susu terus naik, sementara kualitas dan kandungan gizi tidak boleh diturunkan. Ini menjadi tantangan tersendiri di lapangan,” jelasnya.

Menariknya, usulan perubahan menu ini sejalan dengan kebijakan terbaru pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam kebijakan tersebut, susu tidak lagi menjadi komponen wajib dalam program MBG.

Sebagai gantinya, pemerintah memberikan fleksibilitas kepada daerah untuk menyesuaikan menu dengan potensi dan ketersediaan bahan lokal, selama kebutuhan gizi siswa tetap terpenuhi.

Pendekatan ini juga membuka ruang bagi variasi menu, termasuk penyajian makanan ringan atau camilan bergizi yang dinilai lebih efektif dan sesuai dengan pola konsumsi siswa.

Dengan demikian, gagasan penggantian menu ompreng menjadi alternatif yang lebih praktis tidak hanya menjawab persoalan di lapangan, tetapi juga selaras dengan arah kebijakan nasional.

Ke depan, evaluasi berbasis kebutuhan riil di sekolah menjadi kunci agar program gizi tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar memberikan manfaat optimal bagi tumbuh kembang siswa.

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama