![]() |
| [Foto : Ilustrasi “Soerabaia’s Florence Nightingale”, perempuan Surabaya yang berani mengevakuasi jenazah pejuang pada Pertempuran 10 November 1945.] |
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sejarah yang mengangkat kisah heroik perempuan Surabaya dalam peristiwa Pertempuran 10 November 1945 salah satu momen paling menentukan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Mengacu pada laporan media internasional The London Times edisi 14 November 1945, disebutkan bahwa perempuan Indonesia dengan penuh keberanian keluar pada malam hari untuk mengevakuasi jasad para pejuang yang gugur. Di tengah dentuman meriam dan ancaman maut, mereka mempertaruhkan nyawa demi menjaga martabat para pahlawan.
Narasi tersebut menjadi dasar penyematan istilah “Florence Nightingale Soerabaia”, merujuk pada sosok Florence Nightingale pelopor keperawatan modern yang dikenal atas dedikasi kemanusiaannya. Namun dalam konteks Surabaya, sebutan ini melampaui makna medis; ia menjadi simbol ketulusan, keberanian, dan empati perempuan yang hadir di garis sunyi perjuangan.
Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai peringatan historis, tetapi juga sebagai pengingat nilai-nilai kemanusiaan yang kerap terlupakan dalam narasi besar perang. Perempuan, yang sering kali luput dari sorotan utama, justru memainkan peran penting dalam menjaga kemanusiaan di tengah kekacauan konflik.
Pemilihan lokasi di Lodji Besar Peneleh bukan tanpa alasan. Bangunan bersejarah ini dikenal sebagai salah satu titik penting dalam perkembangan intelektual dan pergerakan di Surabaya, sehingga menghadirkan nuansa autentik bagi perenungan sejarah yang lebih mendalam.
Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi masa kini tidak hanya mengenang, tetapi juga meneladani semangat pengorbanan dan kepedulian sosial yang telah ditunjukkan para perempuan Surabaya. Mereka bukan sekadar saksi sejarah, melainkan pelaku nyata yang mengisi lembar perjuangan dengan keberanian dan cinta kasih.
Acara ini terbuka untuk umum dan menjadi ajakan bersama untuk kembali menempatkan perempuan dalam posisi yang layak dalam historiografi perjuangan bangsa.
(Hamim RK / Mpu Batu – Surabaya)
dibaca
