Prosesi tersebut bukan sekadar ritual adat biasa, melainkan rangkaian kegiatan spiritual yang sarat makna, diawali dengan penyatuan tujuh sumber air suci (tirta), dilanjutkan dengan doa bersama, hingga mencapai inti prosesi yang disebut Purnam Cakra Gapura Dwijagat Nusantara. Ritual ini difokuskan pada titik-titik yang diyakini memiliki nilai historis dan spiritual tinggi, seperti kawasan candi, puri, petilasan, pesarehan, hingga sumber mata air suci.
Di wilayah NTB, prosesi dilaksanakan pada 13–14 April 2026 di dua lokasi penting, yakni Puri Pamotan dan Taman Mayura. Kedua tempat tersebut dikenal sebagai situs bersejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan budaya dan spiritual masyarakat setempat.
Kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat dan dihadiri oleh Anak Agung Ketut Oka Putra, yang merupakan keturunan Raja Pamotan, bersama para pemangku adat. Mereka turut didampingi oleh tim Pasopati Cakra Nusantara, di antaranya Ida Bagus Benny, Lia Lestari, dan Nya Zaenab.
Ketua Umum Pasopati Cakra Nusantara, Kanjeng Pangeran Arya Senopati Ki Bagus Empu Batu, dalam keterangannya pada 20 April 2026 menjelaskan bahwa prosesi ini bertujuan membuka serta memancarkan energi positif yang bersumber dari warisan spiritual Nusantara.
“Ritual ini menjadi ikhtiar untuk membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai luhur, seperti budi pekerti, kecerdasan batin, dan peradaban yang berlandaskan kebajikan. Kami berharap energi yang terbangun mampu membawa keberkahan bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai upaya menjaga keseimbangan semesta. Dalam pandangannya, harmoni antara manusia, alam, dan dimensi spiritual merupakan fondasi penting dalam menciptakan kedamaian yang berkelanjutan.
“Melalui prosesi ini, kami berharap tercipta keselarasan yang mampu menghadirkan ketenteraman bagi semua makhluk. Budaya harus menjadi jalan untuk membangun kesadaran, agar manusia senantiasa berjalan dalam dharma dan kebajikan,” tambahnya.
Pasopati Cakra Nusantara juga menaruh harapan besar agar “pintu gerbang Nusantara” yang dimaknai secara simbolik ini dapat terbuka luas, memancarkan energi kemajuan, serta mendorong kebangkitan bangsa dalam berbagai aspek kehidupan—baik spiritual, sosial, maupun budaya.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus modernisasi, akar budaya dan nilai-nilai spiritual tetap memiliki peran penting dalam menjaga jati diri bangsa. Lebih dari sekadar ritual, prosesi ini merupakan refleksi mendalam atas hubungan manusia dengan alam semesta dan Sang Pencipta.
Salam Budaya
(Hamim RK)
dibaca


