Surabaya | Rajawalikompas.com — Suasana Langgar Mas’adah Surabaya, Minggu (4/10) pagi, tampak ramai. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lanjut usia tumplek blek menjadi satu dalam kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, pengobatan gratis, hingga khitan massal.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda sosial tahunan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Pengabdian masyarakat ini terselenggara atas kolaborasi Menara Indonesia, Sultan Khitan, dan Langgar Mas’adah Surabaya ,dengan melibatkan tenaga kesehatan dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Para tenaga kesehatan yang terlibat berasal dari berbagai profesi, mulai dokter, perawat, bidan, apoteker, tenaga farmasi hingga ahli gizi. Kehadiran lintas profesi tersebut membuat pelayanan kesehatan dapat diberikan secara lebih komprehensif kepada masyarakat.
Berdasarkan data panitia, sedikitnya 100 peserta terdaftar mengikuti khitan massal, sementara lebih dari 150 masyarakat mendapatkan layanan pemeriksaan dan pengobatan kesehatan gratis. Selain itu, sekitar 450 warga mendapatkan edukasi kesehatan melalui kegiatan penyuluhan.
Ketua Takmir Langgar Mas’adah, Ustaz Irfan , dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut.
"Terima kasih atas antusiasme, dedikasi, dan kepercayaan masyarakat. Semoga kegiatan seperti ini terus memberikan manfaat dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk meningkatkan kesehatan masyarakat," ujar Ustaz Irfan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Direktur Menara Indonesia, Ali Maghfuri, S.Kep., MM. Ia menegaskan bahwa kegiatan sosial dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat merupakan bagian dari komitmen lembaganya.
Menurut Ali, semangat memberikan manfaat kepada sesama harus terus dijaga dan diwujudkan melalui aksi nyata.
"Kami mendukung sepenuhnya kegiatan baik ini. Karena sejalan dengan perintah Tuhan, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat. Maka apa pun yang melahirkan kemanfaatan untuk masyarakat harus menjadi prioritas," kata Ali.
Selain menjabat sebagai Direktur Menara Indonesia, Ali Maghfuri juga dikenal sebagai praktisi kesehatan sekaligus pemilik Sultan Khitan Dalam kegiatan tersebut, ia turut terlibat langsung sebagai bagian dari tim khitan.
Dalam kesempatan itu, Ali memberikan edukasi sederhana kepada masyarakat mengenai proses khitan pada laki-laki. Ia menjelaskan bahwa secara umum terdapat tiga tahapan utama dalam proses khitan, yakni pembiusan, pemotongan kulit, dan perapian.
Ia juga mengingatkan bahwa perawatan setelah khitan tidak kalah penting untuk mendukung proses pemulihan.
"Setelah khitan, yang paling penting adalah menjaga kebersihan dan mengikuti petunjuk perawatan. Selama tidak memiliki alergi tertentu, anak pada dasarnya dapat mengonsumsi makanan dan minuman seperti biasa," jelas Ali.
Ia menyarankan anak yang baru menjalani khitan untuk mengonsumsi makanan dengan kandungan protein tinggi, seperti telur, daging, ikan, maupun kacang-kacangan, guna mendukung proses pemulihan jaringan.
Terkait kebersihan, area khitan perlu dijaga agar tetap bersih. Setelah buang air kecil, area tersebut dapat dibersihkan secara lembut menggunakan bahan pembersih yang aman dan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Ali juga menjelaskan bahwa perubahan warna maupun munculnya keropeng pada area khitan selama proses penyembuhan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan. Keropeng tidak perlu dikorek atau dilepas secara paksa karena umumnya akan terlepas dengan sendirinya.
"Jangan diotak-atik. Biarkan proses penyembuhan berlangsung secara alami. Yang terpenting tetap menjaga kebersihan dan melakukan kontrol apabila muncul keluhan," tambahnya.
Untuk aktivitas, anak tetap dapat beraktivitas sesuai kondisi masing-masing. Namun, selama masa pemulihan, aktivitas yang berisiko menyebabkan benturan atau tekanan pada area khitan sebaiknya dikurangi.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan. Tidak hanya warga yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, sejumlah tenaga kesehatan juga datang dari berbagai daerah di Jawa Timur untuk ikut mengambil bagian dalam kegiatan sosial tersebut.
Kegiatan ini menjadi gambaran bahwa kolaborasi antara tenaga kesehatan, lembaga pendidikan dan pelatihan kesehatan, komunitas pelayanan khitan, serta masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih dekat dan mudah dijangkau.
Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap gerakan pengabdian masyarakat dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, tidak hanya dalam momentum peringatan Maulid Nabi, tetapi juga dalam berbagai kesempatan lainnya.
Harapannya, semakin banyak masyarakat yang mendapatkan akses pemeriksaan, pengobatan, edukasi, dan pelayanan kesehatan sehingga kualitas serta derajat kesehatan masyarakat dapat terus meningkat.
"Karena kesehatan bukan hanya tentang mengobati ketika sakit, tetapi juga tentang memberikan edukasi, mencegah penyakit, dan menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat."
(Khan RK)
dibaca


