Rajawali Kompas

Jatim Fest 2026: RS Mata Masyarakat Jawa Timur Perkuat Transformasi Digital, Hadirkan Layanan Kesehatan yang Makin Cepat, Mudah dan Transparan


Surabaya | Rajawalikompas.com — Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan kesehatan publik yang inovatif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui partisipasi RSMM Jawa Timur dalam Jatim Fest 2026 yang berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Grand City Surabaya.

Dalam ajang tersebut, RSMM Jawa Timur membuka booth layanan yang menghadirkan pemeriksaan kesehatan mata secara gratis, memperkenalkan beragam layanan serta inovasi rumah sakit, sekaligus mengisi talk show di panggung utama dengan tema “Clear Vision for Better Life.”

Keikutsertaan RSMM Jawa Timur dalam Jatim Fest 2026 tidak sekadar menjadi ruang untuk memperkenalkan layanan rumah sakit kepada masyarakat. Momentum tersebut menjadi bagian dari upaya memperlihatkan bagaimana transformasi pelayanan publik dapat diwujudkan melalui inovasi yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Di tengah tuntutan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang semakin cepat, mudah, transparan, dan akuntabel, RSMM Jawa Timur mengembangkan berbagai inovasi yang tidak hanya menyentuh aspek pelayanan medis, tetapi juga mencakup pelayanan penunjang, deteksi dini, edukasi kesehatan, pengelolaan lingkungan, tata kelola kepegawaian, kearsipan, hingga perencanaan anggaran.

Direktur RSMM Jawa Timur, dr. A A Ayu Mas Kusumayanti, M.Kes, menegaskan bahwa inovasi bagi rumah sakit bukan sekadar persoalan menghadirkan teknologi baru.

“Bagi kami, inovasi bukan sekadar menciptakan aplikasi atau menggunakan teknologi baru. Yang paling penting adalah bagaimana inovasi tersebut mampu menjawab permasalahan yang ada, memberikan kemudahan bagi masyarakat, meningkatkan efisiensi pelayanan, serta memberikan manfaat yang benar-benar dapat dirasakan oleh pasien maupun keluarga,” ujarnya.

Menurut Ayu, transformasi digital juga harus berjalan beriringan dengan perubahan pola kerja dan budaya pelayanan di lingkungan rumah sakit. Karena itu, setiap inovasi harus memiliki tujuan yang jelas, manfaat yang dapat diukur, serta mekanisme evaluasi yang berkelanjutan.

Prinsip tersebut tercermin dalam sejumlah inovasi yang dikembangkan RSMM Jawa Timur.

Salah satu inovasi yang dikembangkan untuk mendekatkan akses deteksi dini kepada masyarakat adalah SIPELIPIS.

Melalui inovasi ini, masyarakat dapat melakukan pemeriksaan awal fungsi penglihatan secara mandiri menggunakan smartphone. Pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi karena layanan dapat diakses melalui web dengan memindai QR Code atau melalui laman sipelipis-rsmmjatim.netlify.app.

Konsep tersebut memungkinkan masyarakat melakukan pemeriksaan awal secara lebih praktis sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap kondisi penglihatannya. Hasil pemeriksaan awal dapat menjadi informasi penting bagi masyarakat untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

Namun, upaya deteksi dini gangguan penglihatan tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas rumah sakit. Akses pemeriksaan perlu diperluas hingga mendekati lingkungan tempat tinggal masyarakat.

Untuk itu, RSMM Jawa Timur menghadirkan NINGMADU (Skrining Mata Terpadu), sebuah pendekatan yang mendorong peningkatan kapasitas kader kesehatan agar mampu membantu melakukan pemeriksaan tajam penglihatan dan lapang pandang serta mendukung proses rujukan bagi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Program tersebut diperkuat dengan SI-GALON, aplikasi yang membantu proses skrining pada kelompok sasaran. Layanan tersebut dapat diakses melalui laman rsmm.jatimprov.go.id/sigalon/.

Melalui pendekatan berbasis jejaring tersebut, RSMM Jawa Timur berupaya membangun ekosistem deteksi dini yang lebih luas, dengan melibatkan masyarakat dan kader kesehatan sebagai bagian dari mata rantai pelayanan kesehatan mata.

Transformasi pelayanan juga diwujudkan melalui SiLoVi (Sistem Low Vision) yang ditujukan untuk membantu pelayanan bagi pasien dengan gangguan penglihatan berat.

Pelayanan low vision membutuhkan ketelitian dalam menentukan kebutuhan perbesaran dan pemilihan alat bantu penglihatan. Sebelumnya, proses kalkulasi dapat dilakukan secara manual menggunakan rumus klinis yang relatif kompleks.

SiLoVi menghadirkan pendekatan yang lebih praktis melalui aplikasi Android yang mengintegrasikan kalkulator perbesaran digital, panduan pemeriksaan, edukasi klinis, hingga katalog alat bantu low vision.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk membantu tenaga kesehatan bekerja lebih efektif sekaligus meningkatkan kualitas layanan yang diterima pasien.

Inovasi lainnya adalah NUTRI-EYE CARE, yang mengintegrasikan teknologi digital dengan pelayanan gizi klinik.

Melalui website edukasi dan konsultasi gizi yang dapat diakses secara mandiri, pasien dan keluarga memperoleh informasi yang lebih mudah dijangkau tanpa sepenuhnya bergantung pada edukasi tatap muka.

Melalui barcode yang tersedia selama masa perawatan, masyarakat dapat mengakses berbagai informasi mengenai pola makan untuk mendukung kesehatan mata, pengelolaan kondisi yang berkaitan dengan diabetes dan hipertensi, hingga pemenuhan kebutuhan gizi selama masa pemulihan.

Pendekatan ini memperluas fungsi pelayanan gizi dari sekadar konsultasi di ruang pelayanan menjadi edukasi yang dapat diakses pasien dan keluarga secara lebih fleksibel.

Kemudahan layanan juga menjadi fokus dalam pengembangan SIBARLA (Sistem Barcode Hasil Laboratorium).

Inovasi ini memanfaatkan barcode atau QR Code yang terintegrasi dengan WhatsApp Business untuk mempermudah pasien memperoleh hasil pemeriksaan laboratorium secara digital.

Setelah hasil pemeriksaan divalidasi, pasien dapat mengaksesnya secara digital tanpa harus kembali ke rumah sakit hanya untuk mengambil hasil laboratorium.


SIBARLA sekaligus mendukung transformasi digital pelayanan laboratorium dan implementasi Rekam Medis Elektronik.

Bagi masyarakat, manfaatnya sederhana namun signifikan: mengurangi waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk kembali ke rumah sakit serta mempercepat akses terhadap informasi kesehatan yang dibutuhkan.

Transformasi yang dilakukan RSMM Jawa Timur tidak berhenti pada pelayanan pasien. Inovasi juga dikembangkan untuk memastikan rumah sakit dikelola secara lebih efektif, akuntabel, dan berkelanjutan.

Dalam aspek lingkungan, RSMM Jawa Timur menghadirkan PHGuard (Optimalisasi Monitoring pH Air Limbah Berbasis Mikrokontroler). Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat monitoring pengelolaan air limbah rumah sakit melalui pemanfaatan teknologi.

Sementara dalam tata kelola kepegawaian, terdapat D-MAP (Dashboard Monitoring Kedisiplinan Pegawai Berbasis Data Jatim Presensi).

D-MAP mengolah data presensi yang sebelumnya berupa data mentah menjadi informasi yang lebih mudah dibaca dan dimanfaatkan. Melalui pengolahan data, analisis, visualisasi, dan monitoring dalam satu platform, pimpinan maupun pengelola kepegawaian dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kedisiplinan pegawai.

Di bidang administrasi, RSMM Jawa Timur mengembangkan KEDIP MATA (Kearsipan Digital Rumah Sakit Mata Masyarakat Jawa Timur) sebagai bagian dari transformasi pengelolaan arsip menuju sistem yang lebih tertata dan digital.

Sementara itu, dalam mendukung proses perencanaan anggaran, RSMM Jawa Timur menghadirkan PEDAS MATA (Perencanaan Cerdas Rumah Sakit Mata).

Melalui sistem tersebut, setiap unit kerja dapat memasukkan usulan kebutuhan secara langsung. Data yang terkumpul kemudian menjadi salah satu dasar dalam penyusunan dokumen perencanaan anggaran, mulai dari RKA, RBA, hingga APBD rumah sakit.

Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya hadir di ruang pelayanan pasien, tetapi juga masuk ke dalam proses pengambilan keputusan dan tata kelola organisasi.

Beragam inovasi yang dikembangkan RSMM Jawa Timur menunjukkan bahwa transformasi digital rumah sakit memiliki dimensi yang luas. Teknologi digunakan untuk memperpendek proses, mendekatkan akses, mengurangi beban administratif, memperkuat pengambilan keputusan, sekaligus meningkatkan transparansi.

Namun, keberhasilan inovasi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi tersebut mampu menyelesaikan persoalan nyata dan memberikan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.

Semangat tersebut menjadi benang merah kehadiran RSMM Jawa Timur di Jatim Fest 2026. Melalui tema “Clear Vision for Better Life,” rumah sakit tidak hanya berbicara mengenai kesehatan mata, tetapi juga tentang bagaimana pelayanan kesehatan dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Transformasi digital menjadi bagian dari perjalanan RSMM Jawa Timur untuk membangun pelayanan yang semakin mudah, cepat, aman, efisien, transparan, dan akuntabel.

Ke depan, rumah sakit akan terus mengembangkan inovasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus memastikan bahwa setiap inovasi tetap berpijak pada kebutuhan manusia.

Sebab pada akhirnya, teknologi dalam pelayanan kesehatan bukan tentang seberapa banyak aplikasi yang diciptakan, melainkan tentang seberapa besar perubahan positif yang mampu dihadirkan bagi pasien, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

(Khan RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama