![]() |
| [Foto : Jaringan Irigasi Bengawan Jero] |
Monitoring menyasar sejumlah wilayah mulai Kecamatan Glagah hingga Dam Corong yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Lamongan dan Gresik. Pemantauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi ketersediaan serta distribusi air, mengingat sebagian wilayah Bengawan Jero masih membutuhkan suplai irigasi untuk mempertahankan pertanaman padi MT II.
Dari hasil monitoring, wilayah hilir Kecamatan Glagah mulai memasuki masa panen. Sementara itu, sebagian wilayah hilir Kabupaten Gresik telah menyelesaikan panen dan mulai beralih pada aktivitas pertambakan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemkab Lamongan karena kebutuhan air baku Bengawan Jero selama Agustus masih relatif tinggi, terutama di wilayah tengah dan dalam yang masih melangsungkan pertanaman padi.
Pemkab Lamongan kemudian memperkuat koordinasi lintas wilayah untuk menjaga keseimbangan pemanfaatan air. Salah satu langkah yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan Camat Glagah dan Kepala Desa Wedoro untuk mengimbau masyarakat yang telah menyelesaikan panen agar sementara menunda aktivitas menaikkan air untuk kebutuhan tambak.
Kebijakan tersebut bukan untuk mengabaikan kebutuhan masyarakat di wilayah hilir, melainkan sebagai upaya mengatur penggunaan sumber daya air secara proporsional agar kebutuhan irigasi pertanian di wilayah tengah dan dalam Bengawan Jero tetap terpenuhi.
“Pengaturan dilakukan agar kebutuhan air untuk pertanaman padi di wilayah tengah dan dalam Bengawan Jero tetap mendapatkan suplai yang cukup,” demikian salah satu poin koordinasi dalam monitoring tersebut.
Selain itu, Pemkab Lamongan berkoordinasi dengan petugas pengelola Dam Corong dari sumber daya air Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Saat ini, dua dari lima pintu Dam Corong dibuka untuk mengatur aliran air sekaligus mengantisipasi masuknya air asin agar tidak bergerak lebih cepat menuju wilayah hulu.
Koordinasi juga dilakukan bersama UPT Provinsi perwakilan Gresik-Lamongan guna mengatur operasional pompa tambak di wilayah hilir Gresik secara bergantian. Sistem pengoperasian tersebut diharapkan dapat menjaga kestabilan debit air tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada sektor pertanian maupun tambak.
Pemkab Lamongan turut berdialog langsung dengan petani di wilayah hilir Dam Corong yang menjalankan aktivitas pertambakan. Mereka diimbau mengatur penggunaan pompa secara bergantian dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan air untuk pertanian di Lamongan yang saat ini masih cukup tinggi.
Pengelolaan air di kawasan Bengawan Jero menjadi semakin penting memasuki puncak musim kemarau. Ketidakseimbangan pemanfaatan air berpotensi memengaruhi keberlangsungan pertanaman padi sekaligus meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Karena itu, monitoring dan koordinasi lintas wilayah yang dilakukan Pemkab Lamongan menjadi bagian dari langkah antisipatif untuk menjaga distribusi air tetap terkendali. Pemerintah berupaya memastikan kebutuhan pertanian MT II dapat terpenuhi, sekaligus mendorong penggunaan air secara bijak di tengah keterbatasan sumber daya air selama musim kemarau.
Dengan pengaturan yang melibatkan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pengelola jaringan irigasi, pemerintah desa, petani, serta pelaku tambak, diharapkan ketersediaan air Bengawan Jero dapat dikelola secara lebih efektif dan adil, sehingga kebutuhan pangan dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah Lamongan-Gresik tetap berjalan.
(Rev RK)
dibaca

