Surabaya | Rajawalikompas.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) Jawa Timur Tahun 2026 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen menghadirkan pelayanan kesehatan mata yang semakin mudah, aman, cepat, dan responsif terhadap kebutuhan pasien.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran lima inovasi pelayanan kefarmasian berbasis digital, yakni SI-BIMATA, LAMTORO, SI-MATA, SI-BUTET, dan DIGI-RETUR.
Kelima inovasi itu tidak lahir semata dari perkembangan teknologi, tetapi dikembangkan berdasarkan persoalan nyata yang ditemui dalam pelayanan kefarmasian. Mulai dari risiko kesalahan penggunaan obat mata, antrean pengambilan obat, keterbatasan akses informasi setelah pasien meninggalkan rumah sakit, hingga kebutuhan memastikan batas aman penggunaan obat setelah kemasan dibuka dan meningkatkan akurasi pencatatan obat retur.
Transformasi digital yang dilakukan RSMM Jawa Timur pun diarahkan bukan sekedar menghadirkan aplikasi baru, melainkan menciptakan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh pasien sekaligus membantu tenaga kesehatan bekerja lebih efektif.
Penggunaan obat mata membutuhkan ketepatan. Kesalahan sederhana, seperti tidak mencuci tangan sebelum penggunaan, posisi penetesan yang kurang tepat, hingga ujung botol menyentuh mata atau kulit, dapat memengaruhi keamanan dan efektivitas terapi.
Menjawab persoalan tersebut, RSMM Jawa Timur menghadirkan SI-BIMATA (Sistem Bimbingan Informasi Obat Mata Audio).
Melalui inovasi ini, pasien dapat memindai QR Code yang tersedia pada kartu atau media edukasi untuk memperoleh panduan penggunaan obat mata dalam format audio melalui telepon genggam.
Keunggulannya, informasi tersebut dapat diputar kembali kapan pun dan berulang kali. Dengan demikian, pasien tidak hanya bergantung pada penjelasan lisan saat menerima obat, tetapi memiliki media edukasi yang dapat menjadi pengingat ketika sudah berada di rumah.
SI-BIMATA diharapkan mampu meningkatkan pemahaman pasien, menekan risiko kesalahan penggunaan obat, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi, serta memperkuat kualitas Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kefarmasian.
Bagi sebagian pasien, terutama lansia, pasien dengan gangguan penglihatan, maupun pasien pascaoperasi, perjalanan menuju rumah sakit dan antrean pengambilan obat dapat menjadi tantangan tersendiri.
Melalui LAMTORO (Layanan Antar Obat RS Mata Elektronik), RSMM Jawa Timur berupaya menjawab kebutuhan tersebut.
LAMTORO merupakan pengembangan dari layanan antar obat yang telah berjalan sejak 2023. Kini, prosesnya diperkuat melalui sistem digital, mulai dari konfirmasi layanan hingga obat diterima pasien di rumah.
Pasien cukup melakukan konfirmasi melalui admin WhatsApp dengan memanfaatkan QR Code. Setelah resep diproses dan obat dikemas sesuai standar operasional prosedur, petugas mengambil obat sesuai jadwal untuk kemudian mengantarkannya kepada pasien pada hari yang sama.
Layanan tersebut diharapkan mampu mengurangi antrean di depo farmasi sekaligus memberikan pilihan yang lebih praktis bagi pasien untuk memperoleh obat tanpa harus kembali menunggu lama di rumah sakit.
Persoalan penggunaan obat tidak selalu muncul ketika pasien masih berada di rumah sakit. Kebingungan mengenai aturan pakai, dosis, maupun cara penggunaan obat terkadang baru muncul setelah pasien sampai di rumah.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, RSMM Jawa Timur menghadirkan SI-MATA (Sistem Informasi Mudah Akses Tanya Apoteker).
SI-MATA mengintegrasikan platform digital berbasis web dengan media edukasi yang dilengkapi QR Code. Pasien dapat mengakses informasi obat melalui perangkat seluler tanpa harus mengunduh aplikasi tambahan.
Selain menyediakan informasi penggunaan obat secara lebih terstandar, sistem ini juga mendukung peran klinis apoteker dalam memberikan konseling secara efektif dan efisien.
Dengan demikian, edukasi kefarmasian tidak berhenti ketika pasien meninggalkan rumah sakit. Pasien maupun keluarga tetap dapat mengakses informasi sesuai kebutuhan.
Hal lain yang kerap luput dari perhatian pasien adalah perbedaan antara tanggal kedaluwarsa obat dengan batas waktu penggunaan setelah kemasan dibuka.
Persoalan tersebut menjadi dasar pengembangan SI-BUTET (Aplikasi Beyond Use Date Tetes dan Salep Mata).
Aplikasi berbasis Android ini mengintegrasikan QR Code, kalkulator Beyond Use Date (BUD), status penggunaan obat, serta riwayat penggunaan dalam satu sistem.
Pasien tidak perlu melakukan perhitungan secara manual. Sistem membantu menentukan batas waktu penggunaan berdasarkan jenis sediaan dan tanggal pertama kali obat dibuka.
Aplikasi juga memberikan informasi mengenai status obat sehingga pasien lebih mudah mengetahui apakah obat masih berada dalam batas penggunaan atau sudah tidak layak digunakan.
Inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan keamanan penggunaan obat sekaligus mendorong masyarakat lebih disiplin dalam memperhatikan masa penggunaan obat setelah kemasan dibuka.
Transformasi digital RSMM Jawa Timur juga menyentuh proses internal pelayanan kefarmasian melalui DIGI-RETUR (Digitalisasi Sistem Pencatatan dan Monitoring Pengembalian Obat Berbasis Web).
Sistem ini dikembangkan untuk memperbaiki proses pencatatan dan pengembalian obat sisa pasien rawat inap yang sebelumnya masih dilakukan secara konvensional.
DIGI-RETUR mengintegrasikan pencatatan transaksi retur dengan dashboard monitoring. Setiap transaksi dapat dilengkapi identitas petugas yang menyerahkan dan menerima obat, sehingga proses serah terima menjadi lebih terdokumentasi dan akuntabel.
Melalui dashboard dan fitur penyaringan data, petugas juga dapat memantau status obat retur secara real-time, termasuk memastikan data telah tercatat dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS).
Dengan sistem tersebut, proses yang sebelumnya membutuhkan pencocokan data secara manual dapat dilakukan secara lebih praktis, transparan, dan terdokumentasi.
Lima inovasi tersebut memiliki fungsi berbeda, namun berada dalam satu garis besar pelayanan: memastikan pengelolaan obat menjadi lebih mudah, aman, informatif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
SI-BIMATA membantu pasien memahami cara penggunaan obat mata. LAMTORO memberikan kemudahan memperoleh obat tanpa harus mengantre di rumah sakit. SI-MATA menjaga akses informasi obat setelah pasien pulang. SI-BUTET membantu memastikan batas aman penggunaan obat setelah kemasan dibuka. Sementara DIGI-RETUR memperkuat akurasi serta akuntabilitas pengelolaan obat di lingkungan rumah sakit.
Kehadiran kelima inovasi tersebut menunjukkan bahwa peringatan HUT RSMM Jawa Timur 2026 tidak hanya menjadi perayaan perjalanan institusi, tetapi juga momentum evaluasi sekaligus pembaruan pelayanan.
Bagi pasien, teknologi diharapkan membuat layanan lebih mudah dipahami dan diakses. Sementara bagi tenaga kesehatan, digitalisasi dapat membantu menyederhanakan proses kerja sehingga waktu dan perhatian dapat lebih optimal diarahkan pada pelayanan pasien.
Semangat tersebut menegaskan bahwa inovasi pelayanan kesehatan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Justru, inovasi menjadi bermakna ketika mampu menjawab persoalan sederhana yang setiap hari dihadapi pasien maupun tenaga kesehatan.
Ketika pasien dapat mengakses kembali panduan obat melalui telepon genggam, memperoleh obat tanpa harus menunggu lama di rumah sakit, mendapatkan informasi setelah pulang, mengetahui batas aman penggunaan obat, serta memastikan pengelolaan obat di rumah sakit berlangsung lebih tertib dan terdokumentasi, di situlah transformasi digital memberikan manfaat nyata.
HUT RSMM Jawa Timur 2026 akhirnya bukan sekadar tentang bertambahnya usia rumah sakit, tetapi tentang keberanian untuk terus berbenah dan menghadirkan pelayanan yang semakin aman, mudah, cepat, digital, dan berpusat pada pasien.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah inovasi bukan semata-mata seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
(Dwi RK)
dibaca



