Gresik | Rajawalikompas.com — Pemandangan berbeda terlihat di lingkungan UPT SDN 273 Gresik dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Para siswa tampil mengenakan pakaian adat dari berbagai penjuru Nusantara.
Ada yang tampil dengan busana adat Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga berbagai representasi budaya daerah lainnya. Warna-warni pakaian tradisional tersebut berpadu dalam satu barisan, menciptakan suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat pesan tentang persatuan Indonesia.
Mengangkat tema “Karnaval Budaya Indonesia — Bersatu dalam Keberagaman, Melestarikan Budaya, Menginspirasi Dunia”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar sekolah untuk memperkenalkan budaya Nusantara sekaligus membangun karakter peserta didik.
Kepala UPT SDN 273 Gresik mengatakan, karnaval tersebut tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial.
“Kegiatan ini bukan sekadar perayaan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih dari itu, kami ingin memberikan pengalaman kepada anak-anak bahwa keberagaman budaya adalah kekayaan yang harus dikenal, dihargai, dan dilestarikan.”
Ia menilai, mengenalkan budaya kepada anak-anak merupakan investasi karakter yang akan menentukan bagaimana generasi muda memandang identitas bangsanya.
“Kami berharap tumbuh generasi yang memiliki rasa bangga terhadap identitas bangsanya, namun tetap terbuka dan mampu menghargai perbedaan. Anak-anak harus memahami bahwa Indonesia menjadi besar bukan karena memiliki satu budaya, melainkan karena mampu menyatukan begitu banyak budaya dalam satu identitas kebangsaan.”
Di sisi lain, Wakil Kepala Sekolah UPT SDN Mushlikh 273 Gresik, Muhammad Nasir, menilai pesan paling kuat dari karnaval tersebut justru terlihat dari cara anak-anak berjalan bersama dalam keberagaman.
“Anak-anak hari ini hadir dengan pakaian adat yang berbeda-beda, tetapi mereka berjalan dalam satu barisan dan satu semangat. Bagi kami, inilah gambaran sederhana tentang Indonesia beragam budaya, tetapi tetap satu dalam kebersamaan.”
Menurut Muhammad Nasir, pengalaman tersebut diharapkan dapat meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagi peserta didik.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai kemeriahan sesaat, melainkan menjadi pengalaman yang membentuk karakter mereka untuk mencintai budaya, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan.”
Ia menambahkan bahwa pembelajaran mengenai kebhinekaan akan lebih bermakna ketika anak-anak dapat mengalaminya secara langsung.
“Ketika mereka mengenakan pakaian adat dan berdampingan dengan teman yang mengenakan busana dari daerah berbeda, mereka sedang belajar bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Perbedaan justru menjadi kekuatan ketika kita mampu menempatkannya dalam semangat persaudaraan.”
Sementara itu, Kepala Desa Khamim., turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurut Khamim, kegiatan yang menggabungkan semangat kemerdekaan dan pelestarian budaya merupakan langkah positif dalam membentuk generasi muda yang memiliki rasa cinta terhadap bangsa.
“Kegiatan seperti ini sangat positif karena anak-anak tidak hanya merayakan kemerdekaan, tetapi juga diperkenalkan kepada kekayaan budaya bangsa. Kita ingin generasi muda tumbuh dengan rasa bangga terhadap Indonesia, mengenal tradisinya, dan memiliki kepedulian untuk ikut melestarikannya.”
Karnaval tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan tentang Indonesia dapat hadir melalui cara yang sederhana namun bermakna. Pakaian adat menjadi pintu masuk untuk mengenal kebudayaan; kebersamaan menjadi pelajaran tentang persatuan; sementara perayaan kemerdekaan menjadi momentum untuk meneguhkan kembali kecintaan terhadap Tanah Air.
Pada akhirnya, karnaval budaya UPT SDN 273 Gresik bukan hanya tentang siapa yang mengenakan pakaian adat paling menarik. Lebih dari itu, kegiatan ini berbicara tentang bagaimana anak-anak belajar mengenal akar budayanya, menghormati perbedaan, dan memahami bahwa mereka adalah bagian dari sebuah bangsa besar bernama Indonesia.
(Ul RK)
dibaca



