Tuban | Rajawalikompas.com – Komitmen Pemerintah Kabupaten Gresik dalam menjaga kelestarian lingkungan kembali mendapat pengakuan di tingkat Provinsi Jawa Timur. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (Gus Yani) dianugerahi penghargaan sebagai kepala daerah yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam pembinaan, perlindungan, dan pengelolaan ekosistem mangrove.
[Foto : Penganugerahan Penghargaan Tingkat Provinsi Dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan]
Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam rangkaian Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 yang digelar di Pantai Panduri, Kabupaten Tuban, Rabu (29/7/2026). Penghargaan diterima oleh Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif yang hadir mewakili Bupati Gresik.
Bagi Pemerintah Kabupaten Gresik, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol prestasi, melainkan bentuk pengakuan atas konsistensi daerah dalam membangun kebijakan pelestarian lingkungan yang berorientasi pada keberlanjutan ekosistem pesisir.
Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif mengatakan, penghargaan tersebut merupakan apresiasi atas kepemimpinan Gus Yani yang selama ini menempatkan pelestarian mangrove sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah.
"Penghargaan ini diberikan kepada Gus Yani sebagai bentuk apresiasi atas komitmen beliau dalam pembinaan, perlindungan, dan pengelolaan ekosistem mangrove di Gresik. Ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus menjaga apa yang telah dibangun," ujar Alif.
Menurutnya, perhatian Bupati Gresik terhadap kawasan mangrove tidak berhenti pada kegiatan seremonial penanaman pohon semata. Lebih dari itu, pemerintah daerah berupaya membangun sistem pengelolaan yang mampu menjaga keseimbangan ekologi sekaligus mendukung keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir.
"Mangrove bukan sekadar tanaman yang ditanam lalu selesai. Di dalamnya ada ekosistem yang harus dijaga, ada kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung padanya, dan ada masa depan lingkungan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya," tambahnya.
Keberhasilan Kabupaten Gresik dalam menjaga kawasan mangrove juga tidak terlepas dari keterlibatan aktif masyarakat. Pada ajang yang sama, sejumlah kelompok masyarakat dari Kecamatan Ujungpangkah turut menerima penghargaan atas dedikasi mereka dalam pelestarian ekosistem mangrove.
Kelompok yang memperoleh penghargaan tersebut antara lain Pokmaswas Muara Tangguh Desa Pangkahwetan, Pokmaswas Pangkahkulon, Pokja Peduli Lingkungan dan Pelestarian Mangrove Desa Banyuurip, serta Pokwasmas Tirtawening Desa Banyuurip. Selain itu, PT Saka Indonesia Pangkah Limited juga memperoleh penghargaan atas kontribusinya dalam rehabilitasi kawasan mangrove.
Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi mangrove di Kabupaten Gresik lahir dari kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam menjaga keberlanjutan kawasan pesisir.
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2024–2025, Kabupaten Gresik memiliki kawasan mangrove seluas 3.921,18 hektare yang tersebar di sepuluh kecamatan. Kecamatan Ujungpangkah menjadi wilayah dengan luasan mangrove terbesar mencapai 2.289,5 hektare, disusul Kecamatan Bungah seluas 555,64 hektare dan Manyar seluas 399,89 hektare.
Keberadaan kawasan mangrove tersebut memiliki peran strategis sebagai benteng alami yang melindungi garis pantai dari abrasi dan intrusi air laut, menjadi habitat berbagai jenis biota laut, burung, reptil, hingga mamalia, sekaligus menyimpan potensi besar sebagai kawasan wisata edukasi, penelitian, dan konservasi lingkungan.
Wabup Alif menegaskan bahwa keberhasilan menjaga mangrove tidak mungkin dicapai tanpa sinergi seluruh elemen masyarakat. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Gresik akan terus memperkuat kolaborasi bersama masyarakat pesisir, akademisi, komunitas lingkungan, pelaku usaha, serta pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
"Penghargaan ini memang diberikan kepada Gus Yani, tetapi semangat menjaganya adalah milik kita bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat pesisir adalah bagian penting dari ekosistem yang harus terus dilibatkan," tegasnya.
Ia menambahkan, pengelolaan mangrove juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan kawasan secara bijaksana tanpa mengurangi fungsi ekologisnya. Langkah tersebut sejalan dengan strategi perlindungan mangrove yang meliputi penguatan regulasi, tata kelola, data kawasan, peningkatan partisipasi masyarakat, hingga pengembangan skema pendanaan berkelanjutan.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah, Hanifah Dwi Nirwana, menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kawasan mangrove terluas di dunia, yakni sekitar 3,45 juta hektare atau sekitar 23 persen dari total mangrove dunia berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025.
Menurutnya, Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan kawasan mangrove terbesar di Pulau Jawa dengan luas mencapai sekitar 31.067 hektare, sehingga memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan konservasi mangrove nasional.
"Keberhasilan pengelolaan mangrove membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Mari kita jaga, pulihkan, dan lestarikan mangrove bersama karena menjaga mangrove berarti menjaga pesisir, menjaga kehidupan, sekaligus mengamankan masa depan generasi Indonesia," ujarnya.
Senada, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi mengapresiasi kepala daerah yang terus menunjukkan komitmen dalam menjaga ekosistem mangrove. Menurutnya, keberhasilan konservasi hanya dapat diwujudkan melalui komitmen jangka panjang, kolaborasi lintas sektor, serta keterlibatan aktif masyarakat pesisir.
Penghargaan yang diterima Bupati Gresik menjadi bukti bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga dari keseriusan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai fondasi kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
(Ul RK)
dibaca


