Rajawali Kompas

Di Balik Kostum Badut, Masa Depan Empat Anak Dipertaruhkan

[Foto : Abdul Rahman bersama keluarga di rumah kontrakannya saat diwawancarai Tim Rajawali Kompas]
Bogor | Rajawalikompas.com – Di balik ramainya arus kendaraan yang melintas di kawasan SPBU Bubulak, Kota Bogor, tersimpan kisah perjuangan sebuah keluarga perantau asal Jakarta yang berusaha bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi. Mengenakan kostum badut di bawah terik matahari maupun guyuran hujan, mereka menghibur para pengguna jalan sambil berharap uluran rezeki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Belakangan, keluarga ini menjadi perbincangan setelah beredar informasi di media sosial yang menyebut penghasilan mereka mencapai Rp1 juta per hari. Namun, saat ditemui Tim Liputan Rajawali Kompas, keluarga tersebut menegaskan bahwa kabar itu jauh dari kenyataan yang mereka alami setiap hari.

Kepala keluarga, Abdul Rahman (42), bersama istrinya, Sumiati (36), dan empat orang anak mereka yang dalam pemberitaan ini disamarkan dengan inisial IS, AS (15), AF (13), dan AR (10), mengaku hanya berusaha menjalani hidup dengan segala keterbatasan yang ada.

Di antara keempat anaknya, AR, sang anak bungsu, menjadi sosok yang paling menarik perhatian para pengendara. Kepiawaiannya menirukan suara burung dan suara kucing dengan sangat mirip kerap membuat pengguna jalan tersenyum, bahkan tak sedikit yang kemudian memberikan uang sebagai bentuk kepedulian.

Setiap hari, AR bersama kakak-kakaknya turun ke jalan sejak pagi hingga menjelang malam. Sementara Abdul Rahman, Sumiati, dan anak tertua sesekali ikut membantu mengamen maupun meminta bantuan kepada masyarakat yang melintas.

Kepada Rajawali Kompas, Abdul Rahman meluruskan informasi mengenai penghasilan keluarganya.

"Kami tidak pernah mendapatkan penghasilan sampai Rp1 juta sehari. Kalau sedang ramai, paling sekitar lima ratus ribuan untuk semuanya. Kalau hujan, jalan sepi, atau ada penertiban petugas, kadang kami pulang hampir tidak membawa hasil."»

Berdasarkan pengakuan keluarga, AS rata-rata memperoleh penghasilan maksimal sekitar Rp250 ribu per hari, sedangkan AR dapat memperoleh sekitar Rp300 ribu. Jika digabungkan, pendapatan keluarga memang bisa melebihi Rp550 ribu dalam sehari. Namun angka tersebut bukanlah pendapatan tetap, melainkan sangat bergantung pada kondisi cuaca, keramaian lalu lintas, hingga situasi di lapangan.

Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin terlihat besar. Namun bagi keluarga yang harus memenuhi kebutuhan enam orang, membayar kontrakan sebesar Rp1,5 juta setiap bulan, memenuhi kebutuhan makan, transportasi, hingga kebutuhan hidup lainnya, penghasilan tersebut dinilai belum mampu memberikan kehidupan yang layak dan stabil.

Kondisi ekonomi yang terus menghimpit akhirnya berdampak pada masa depan anak-anak mereka. Kesempatan memperoleh pendidikan harus terhenti di usia yang seharusnya masih dipenuhi semangat belajar.

Keempat anak Abdul Rahman rata-rata hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas satu sekolah dasar. Bahkan ada yang tidak pernah memasuki bangku SD dan hanya sempat bersekolah di tingkat taman kanak-kanak.

Dengan suara lirih dan wajah penuh kelelahan, Abdul Rahman mengaku keputusan melibatkan anak-anaknya mencari nafkah bukanlah pilihan yang diinginkan, melainkan keadaan yang memaksa.

"Saya bekerja sebagai buruh muat material dengan upah sekitar Rp60 ribu sehari. Penghasilan itu tidak cukup untuk kebutuhan makan dan membayar kontrakan Rp1,5 juta setiap bulan. Karena terpuruk, anak-anak akhirnya ikut turun ke jalan membantu keluarga."

Saat ditanya apakah masih memiliki keinginan untuk kembali bersekolah, jawaban keempat anak tersebut justru membuat suasana wawancara berubah haru.

"Kami ingin membelikan rumah dulu untuk Bapak dan Ibu."

Jawaban sederhana itu menggambarkan bagaimana beban ekonomi telah membuat mereka menunda impian yang seharusnya menjadi hak setiap anak, yakni memperoleh pendidikan yang layak dan menikmati masa kecil sebagaimana anak-anak seusianya.

Sementara itu, Sumiati mengaku tidak tega jika harus berpisah dengan anak-anaknya.

"Tidak boleh lepas. Sekalipun Gubernur Jawa Barat sendiri yang meminta, mereka harus tetap bersama kami."

Kisah keluarga ini bukan sekadar potret tentang kemiskinan, tetapi juga menjadi cerminan persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat. Tekanan ekonomi, terbatasnya lapangan pekerjaan, tingginya biaya hidup, hingga minimnya akses terhadap pendidikan menjadi rangkaian persoalan yang saling berkaitan dan berdampak langsung terhadap masa depan anak-anak.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan, perlindungan, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman. Ketika anak-anak harus turun ke jalan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga, maka persoalan ini bukan lagi semata urusan satu keluarga, melainkan menjadi perhatian bersama.

Peran pemerintah daerah, dinas sosial, dinas pendidikan, lembaga perlindungan anak, dunia usaha, hingga masyarakat luas sangat dibutuhkan agar keluarga seperti Abdul Rahman dapat memperoleh pendampingan, bantuan yang tepat sasaran, serta kesempatan membangun kehidupan yang lebih baik tanpa harus mengorbankan masa depan anak-anak mereka.

Di balik kostum badut yang menghibur para pengguna jalan, tersimpan harapan besar sebuah keluarga yang ingin keluar dari lingkaran kemiskinan. Mereka tidak meminta dikasihani, melainkan berharap suatu hari nanti anak-anak mereka dapat kembali mengenyam pendidikan dan memiliki masa depan yang lebih baik.

(Laporan: Hamim RK/Liputan Khusus Rajawali Kompas Bogor)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama