Rajawali Kompas

Dari Pelosok Malang Selatan, Bopo Riyanto Pendiri Pendopo Limo Menjadi Simbol Toleransi yang Diakui Hingga Tingkat Nasional

[Foto : Bopo Riyanto Pendiri Pendopo limo Malang Selatan (Dok Pribadi dan Arsip Nasional)]
Malang - Jakarta | Rajawalikompas.com – Dari sebuah dusun di wilayah selatan Kabupaten Malang, lahir sosok yang kini dikenal luas sebagai penggerak kerukunan dan toleransi. Bopo Riyanto, pendiri Pendopo Limo di Dusun Kalipakem, Desa Donomulyo, Malang Selatan, berhasil membuktikan bahwa semangat persatuan dapat tumbuh dari akar rumput dan memberi inspirasi bagi bangsa.

Perjalanan pengabdiannya tidak berhenti di lingkungan desa. Melalui berbagai kegiatan yang mengedepankan nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap keberagaman, Bopo Riyanto kerap hadir dalam forum-forum kebangsaan yang mempertemukan tokoh lintas agama, budaya, dan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Dokumentasi kebersamaan Bopo Riyanto bersama tokoh-tokoh nasional, termasuk Nyai Hj. Sinta Nuriyah Wahid, sejumlah kepala daerah, serta pemuka lintas agama dan budaya, menjadi bukti bahwa kiprahnya mendapat perhatian dalam berbagai ruang dialog kebangsaan.

Dalam berbagai forum yang mengusung semangat pluralisme dan persaudaraan, Bopo Riyanto hadir membawa pengalaman nyata menjaga keharmonisan masyarakat di Donomulyo. Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa toleransi bukan hanya sebuah konsep, melainkan nilai yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Bopo Riyanto, keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang harus terus dirawat demi menjaga persatuan Indonesia.

"Keragaman adalah kekayaan bangsa, bukan alasan untuk terpecah belah," menjadi pesan yang terus ia gaungkan dalam setiap kesempatan.

Pendopo Limo yang didirikannya kini dikenal sebagai ruang silaturahmi yang terbuka bagi seluruh kalangan tanpa membedakan latar belakang agama, suku, budaya, maupun golongan. Tempat tersebut menjadi simbol bahwa persaudaraan dapat dibangun melalui dialog, saling menghormati, dan semangat gotong royong.

Keberadaan Pendopo Limo juga ikut mengangkat nama Dusun Kalipakem dan Desa Donomulyo sebagai daerah yang dikenal memiliki komitmen kuat dalam menjaga kerukunan sosial.

Kiprah Bopo Riyanto memberikan sejumlah dampak positif, di antaranya:

- Mengangkat nama Donomulyo sebagai salah satu contoh praktik toleransi yang tumbuh dari masyarakat.

- Membuktikan bahwa pengabdian dari tingkat desa mampu memberi kontribusi bagi persatuan bangsa.

- Menginspirasi tokoh masyarakat di berbagai daerah untuk terus memperkuat nilai kebersamaan di tengah keberagaman.

Seorang pengamat sosial menilai bahwa sosok seperti Bopo Riyanto menunjukkan bahwa perjuangan menjaga persatuan tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan.

"Pahlawan persatuan tidak selalu berada di istana. Mereka bisa lahir dari desa, dari ladang, dan dari hati yang tulus mencintai sesama."

Dedikasi Bopo Riyanto melalui Pendopo Limo menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia akan tetap kokoh apabila nilai toleransi, persaudaraan, dan gotong royong terus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari pelosok desa hingga tingkat nasional.

Reporter : Hamim RK

Editor : Maul RK

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama