Tradisi tahunan yang telah berlangsung turun-temurun itu bukan sekadar kegiatan seremonial keagamaan, melainkan juga menjadi simbol kuatnya persatuan, spiritualitas, dan kearifan lokal masyarakat Betoyo Kauman dan Betoyo Guci.
Acara berlangsung dengan penuh kekeluargaan. Tampak hadir jajaran Forkopimcam Kecamatan Manyar, perangkat desa, tokoh ulama, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta ratusan warga yang memadati lokasi kegiatan dengan antusias dan rasa hormat terhadap tradisi leluhur yang masih dijaga hingga kini.
Kepala Desa Betoyo Kauman, Muhammad Ali Mansyur dalam wawancara eksklusif bersama Rajawali Kompas dan Jurnal Pers Nusantara menyampaikan bahwa tradisi haul tersebut merupakan warisan sejarah sekaligus pengingat spiritual bagi masyarakat agar tetap menjaga nilai persaudaraan, gotong royong, dan rasa syukur kepada Allah SWT.
“Tradisi ini bukan hanya bagian dari budaya masyarakat, tetapi juga menjadi pengikat batin dan sejarah panjang desa kami. Ada nilai perjuangan, doa, serta kebersamaan yang diwariskan para leluhur kepada generasi penerus. Karena itu kami berkomitmen menjaga dan melestarikannya dengan penuh penghormatan,” ungkapnya.
Ia juga menuturkan kilas balik sejarah awal mula tradisi kupat lepet yang hingga kini masih dijalankan masyarakat Betoyo Kauman dan Betoyo Guci setiap tanggal 20 Dzulqo’dah atau 20 Selo dalam penanggalan Hijriyah dan Jawa.
Menurut cerita turun-temurun para sesepuh desa, pada tahun 1893 pernah terjadi musibah kebakaran besar yang meluluhlantakkan kawasan desa. Hampir seluruh rumah warga habis terbakar dan hanya menyisakan tujuh rumah yang selamat dari amukan api.
Berbagai upaya pemadaman saat itu dilakukan warga, namun kobaran api tidak kunjung padam. Hingga kemudian, muncul petunjuk melalui mimpi seorang warga bahwa api hanya dapat dipadamkan menggunakan janur kuning.
Sejak peristiwa itulah masyarakat mulai membuat kupat dan lepet sebagai simbol keselamatan, penolak bala, sekaligus bentuk doa bersama kepada Sang Pencipta agar desa dijauhkan dari musibah.
Tradisi tersebut terus dijaga hingga sekarang dan diyakini memiliki nilai spiritual mendalam bagi masyarakat setempat.
“Ini adalah amanah leluhur yang terus kami rawat. Tradisi kupat lepet bukan sekadar makanan, tetapi simbol doa, keselamatan, dan pengingat agar masyarakat tetap eling lan waspodo. Semangat kebersamaan inilah yang harus terus hidup di tengah perkembangan zaman,” tambah Muhammad Ali Mansyur dengan penuh wibawa.
Rangkaian kegiatan haul ditutup dengan istighosah dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Doa dipanjatkan untuk keselamatan masyarakat Desa Betoyo Kauman, keberkahan desa, serta harapan agar seluruh warga senantiasa diberikan kesehatan, ketenteraman, dan dijauhkan dari segala musibah.
Nuansa religius dan kekhidmatan begitu terasa hingga akhir acara, memperlihatkan bahwa tradisi leluhur yang sarat makna masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Betoyo Kauman hingga hari ini.
(ul RK)
dibaca
