![]() |
| [Foto : Priya Kusuma Tokoh Muda Pasuruan Pake Topi] |
Dalam wawancara pada Sabtu (2/5/2026), Priya menilai terdapat indikasi persaingan yang tidak seimbang di sejumlah sektor yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
“UMKM kantin sekolah bersaing dengan MBG, P3K bersaing dengan pegawai SPPG. Kita sedang berada di mana? Seolah-olah negara sedang melawan rakyatnya sendiri,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan keresahan sebagian masyarakat terhadap arah kebijakan yang dinilai berpotensi menimbulkan benturan kepentingan. Alih-alih saling mendukung, beberapa program justru dianggap menghadirkan kompetisi langsung dengan pelaku usaha kecil maupun kelompok masyarakat tertentu.
Selain itu, Priya juga menyoroti isu penggunaan anggaran di tingkat desa. Ia menilai bahwa implementasi program yang menggunakan dana desa perlu dilakukan dengan perencanaan yang matang dan berbasis kajian yang komprehensif.
“Belum lagi KDMP yang harus mengorbankan dana desa demi sesuatu yang belum tentu mampu bersaing dengan usaha masyarakat yang sudah mapan,” tambahnya.
Menurutnya, hal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan, ketepatan sasaran program, serta transparansi dalam pengelolaan anggaran publik. Ia menekankan bahwa setiap kebijakan seharusnya memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, bukan justru memunculkan persaingan yang kontraproduktif.
Pandangan ini menjadi bagian dari dinamika yang berkembang di tengah masyarakat, sekaligus mencerminkan harapan akan hadirnya kebijakan yang lebih berpihak, adil, dan selaras dengan kebutuhan rakyat.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa setiap program yang dijalankan mampu menciptakan sinergi, bukan justru memunculkan konflik kepentingan yang berpotensi melemahkan ekonomi masyarakat.
(Hamim JPN)
dibaca
