![]() |
| [Foto : Almarhum H. Muhkrokim Senopati Lawu,Bersama Dengan Murtingsih Srikandi Jagad Raya] |
Gelar tersebut bukan sekedar simbol, melainkan amanah yang disebut diberikan oleh HE. Mr. Djuyoto Suntani, Presiden The World Peace Committee yang mengklaim mewakili 202 negara, dalam rangkaian aktivitas perdamaian dunia beberapa tahun sebelum beliau wafat pada masa pandemi.
Dalam kiprahnya, Romo Rokhim dikenal aktif mendampingi berbagai kegiatan bertema perdamaian dunia dan pelestarian alam. Ia beberapa kali terlibat dalam agenda internasional, termasuk saat mendampingi rombongan di Indonesia hingga perjalanan ke Kosovo, Eropa, di mana ia turut memperkenalkan narasi tentang keagungan kawasan pegunungan Nusantara sebagai bagian dari warisan peradaban dunia.
Salah satu momen yang kerap dikenang terjadi pada 5 Agustus 2019, saat dilakukan penandatanganan penetapan Kawasan Gunung Arjuna sebagai Induk Peradaban Dunia. Setelah agenda tersebut, rombongan yang dipimpin Romo Rokhim bersama sejumlah tokoh spiritual dan budaya melanjutkan perjalanan menuju Prasasti Puyang Lingga Buana untuk bertemu tokoh adat dan spiritual setempat.
Di balik aktivitas spiritual dan kebudayaan itu, tersimpan kisah perjalanan ekstrem yang masih dikenang para saksi. Menurut penuturan Ibu Martiningsih, salah satu rekan seperjalanan, mereka pernah mendaki menuju puncak Gunung Lawu melalui jalur Basecamp Babar hingga Argo Dumilah.
Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam 6–7 jam tersebut kala itu berlangsung lebih dari 12 jam. Kondisi medan, cuaca dingin ekstrem hingga mencapai minus 4 derajat Celsius, serta hujan yang mengguyur membuat perjalanan menjadi sangat berat.
Mereka bahkan terpaksa beristirahat di area sabana terbuka pada malam hari, dengan alas seadanya berupa plastik dan beralaskan tanah basah, sembari bertahan dalam suhu dingin ekstrem di kawasan pegunungan.
Pagi harinya, perjalanan dilanjutkan hingga mencapai area puncak dan titik pandang Gunung Lawu. Di sinilah, menurut kesaksian rombongan, terjadi pengalaman yang sulit dijelaskan secara rasional.
“Di puncak itu kami melihat sesuatu seperti naga bersisik putih yang melingkari kawasan gunung. Itu terlihat sangat nyata bagi kami pada saat itu,” ujar Martiningsih dalam kesaksiannya yang disampaikan setelah kepergian Romo Rokhim.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian dari kisah spiritual yang melekat dalam perjalanan mereka di Gunung Lawu, yang bagi sebagian kalangan diyakini sebagai gunung yang sarat nilai mistis dan simbolik dalam tradisi Jawa.
Romo Rokhim dikenal sebagai sosok yang sederhana, teguh dalam keyakinan, dan ikhlas dalam menjalankan setiap amanah yang ia emban. Hingga akhir hayatnya, ia kerap menunjukkan sikap pasrah dan tawakal.
Kepergiannya dikenang dengan ungkapan yang sering ia sampaikan dalam bahasa Jawa:
"Kula apundut, dateng kersanipun Gusti" aku dipanggil pulang atas kehendak Tuhan.
Kepergian Romo Rokhim meninggalkan duka bagi mereka yang pernah berjalan bersamanya, sekaligus meninggalkan kisah panjang tentang spiritualitas, alam, dan pengabdian yang menyatu dalam satu perjalanan hidup.
(Redaksi)
dibaca

