Rajawali Kompas

“Kartini Hari Ini: Antara Seremoni dan Realita—MAUL Redaksi Rajawali Kompas Sentil Keras Ketimpangan Perempuan”


GRESIK | RAJAWALIKOMPAS.COM – Gaung peringatan Hari Kartini kembali menggema. Namun di balik balutan kebaya dan seremoni tahunan, muncul pertanyaan tajam: sejauh mana perjuangan R.A. Kartini benar-benar dilanjutkan?

Maul Wahyuti selaku Direktur Media Rajawali Kompas angkat suara. Bukan sekedar ucapan seremonial, tetapi kritik terbuka terhadap realitas yang dinilai masih jauh dari cita-cita emansipasi. Ketimpangan peran perempuan, akses ekonomi yang terbatas, hingga rendahnya literasi digital menjadi sorotan utama.

“Jangan hanya bangga memakai kebaya setahun sekali, tapi tutup mata terhadap ketidakadilan yang masih dialami perempuan setiap hari,” tegas perwakilan Maul RK, pada Senin (21/4/2026).

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Di era digital yang serba cepat, banyak perempuan masih tertinggal dalam akses teknologi dan peluang ekonomi. Bahkan, dalam sejumlah sektor, perempuan kerap terjebak dalam posisi marginal kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan, namun dibebani tanggung jawab besar.

Maul menilai, semangat Kartini telah “direduksi” menjadi simbol tanpa aksi. Padahal, Kartini dikenal sebagai sosok yang melawan struktur sosial yang mengekang perempuan pada zamannya sebuah perjuangan yang seharusnya relevan hingga hari ini.

“Kalau Kartini hidup sekarang, mungkin beliau akan lebih lantang bersuara tentang ketimpangan digital, kekerasan berbasis gender, dan minimnya ruang kepemimpinan perempuan,” lanjutnya.

Tak hanya mengkritik, Maul juga mendorong langkah konkret. Mulai dari peningkatan akses pendidikan berbasis teknologi bagi perempuan, dukungan terhadap UMKM perempuan, hingga kebijakan yang benar-benar berpihak pada kesetaraan gender.

Momentum Hari Kartini, menurut mereka, harus menjadi titik balik bukan sekedar tradisi tahunan. Perempuan Indonesia dituntut untuk tidak lagi diam, sementara masyarakat dan pemerintah didorong untuk berhenti setengah hati dalam memperjuangkan kesetaraan.

“Ini bukan soal perayaan. Ini soal keberanian melanjutkan perjuangan. Kartini tidak butuh dikenang ia butuh dilanjutkan,” pungkasnya tajam.

(Wid RK)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama