Rajawali Kompas

Budi Daya Jamur Tiram di GSP Suci Manyar, Marsono Wanito Buktikan Peluang Usaha Sederhana yang Menjanjikan

[Foto : Marsono Wanito Pembudi Daya Jamur Tiram asal Desa Suci Gresik]
Gresik | Rajawalikompas.com – Jamur tiram kian menunjukkan eksistensinya sebagai komoditas pangan yang diminati masyarakat. Selain menjadi pelengkap menu harian, jamur tiram juga menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan. Kondisi inilah yang mendorong banyak pelaku usaha menekuni budi daya jamur tiram, salah satunya Marsono Wanito, warga Perumahan Griya Suci Permai (GSP), Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.

Sejak mulai menekuni usaha budi daya jamur tiram pada tahun 2025, Marsono mampu meraih keuntungan yang cukup signifikan. Dari total sekitar 8.000 baglog yang dikelolanya, ia dapat memanen rata-rata 100 baglog setiap hari secara bergiliran. Dari hasil panen tersebut, Marsono mengaku mampu memperoleh pendapatan bersih berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per hari.

“Panen dilakukan setiap hari secara bergantian dari baglog yang tersedia, sehingga produksi tetap stabil,” ujar Marsono saat ditemui Eko Nurhadiyanto, petugas Komite Nasional Pemanfaatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup (Komnas PPLH) Kabupaten Gresik, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan, dalam sekali panen setiap baglog dapat menghasilkan lebih dari 3 ons jamur tiram. Dengan demikian, dari 100 baglog bisa diperoleh sekitar 33 kilogram jamur. Jamur tiram tersebut dipasarkan dengan harga berkisar antara Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram.

Marsono mengaku mempelajari teknik budi daya jamur tiram secara otodidak, baik melalui praktik langsung di rumah maupun diskusi dengan pelaku usaha lain yang telah lebih dulu berkecimpung di bidang tersebut. Dari proses tersebut, ia menemukan pola yang tepat serta metode ideal dalam pengelolaan jamur tiram.

“Awalnya coba-coba sambil belajar. Lama-kelamaan saya memahami ritme dan kebutuhan jamur tiram agar tumbuh optimal,” ungkapnya.

Menurut Marsono, budi daya jamur tiram relatif tidak memiliki kendala besar. Namun, usaha ini menuntut konsistensi, kesabaran, dan ketelatenan. Berbeda dengan pertanian pada umumnya, jamur tiram tidak memerlukan pupuk tambahan, melainkan perhatian khusus terhadap suhu dan kelembapan ruangan.

“Suhu ideal berada di kisaran 18–26 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan sekitar 80 persen,” jelasnya. Untuk memantau kondisi tersebut, Marsono menggunakan alat pengukur suhu dan kelembapan yang mudah diperoleh melalui toko daring.

Guna menjaga kondisi lingkungan tetap stabil, baglog jamur diletakkan di ruangan tertutup dengan lantai berlapis karpet dan atap dari dak beton. Pada musim kemarau, penyiraman rutin dilakukan untuk menurunkan suhu ruangan agar tetap lembap dan sejuk.

Baglog disusun rapi pada rak-rak yang dibuat dari kayu bekas bangunan maupun besi galvalum. “Rak kayu lebih hemat dari sisi modal, sedangkan galvalum lebih mahal tapi lebih awet,” terangnya.

Selain ketelatenan teknis, Marsono menekankan pentingnya manajemen keuangan dalam mengembangkan usaha jamur tiram. Menurutnya, pengaturan arus modal dan hasil penjualan menjadi faktor penentu agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Kalau manajemen keuangannya tidak baik, potensi usaha ini sulit untuk berkembang,” katanya.

Terkait hama, Marsono menyebut serangga sebagai ancaman utama dalam budi daya jamur tiram. Untuk mengantisipasinya, seluruh celah ruangan ditutup menggunakan jaring paranet.

“Kalau masih ada serangga yang masuk, maka harus rajin dibersihkan setiap pagi,” pungkasnya.

Keberhasilan Marsono Wanito menunjukkan bahwa dengan ketekunan, manajemen yang baik, serta pemahaman teknis yang tepat, budi daya jamur tiram dapat menjadi peluang usaha sederhana namun menjanjikan bagi masyarakat.

(Eko/Redaksi)

Baca Juga

dibaca

Posting Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama