![]() |
| [Foto : Gus Sukoiri Saat Ngaji Bareng Di Lapas Kelas IIA Kediri] |
Gus Sukhoiri, Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Mburi Wong Bodho, Gresik, dalam tausiyahnya menekankan pentingnya menjadikan masa pembinaan sebagai sarana introspeksi dan perbaikan diri. Menurutnya, keberadaan warga binaan di dalam Lapas merupakan bentuk kasih sayang Allah agar setiap individu memiliki kesempatan untuk kembali ke jalan yang lebih baik.
“Tidak semua orang diberi ruang untuk berhenti dan memperbaiki diri. Warga binaan justru mendapat kesempatan tersebut agar dapat bertaubat dan menata kembali kehidupannya,” ujar Gus Sukhoiri.
Sementara itu, Gus Gendeng menyampaikan pesan motivasi dengan pendekatan komunikatif, mengajak warga binaan untuk tetap menjaga harapan serta tidak larut dalam masa lalu. Ia menegaskan bahwa perubahan hanya dapat terwujud melalui niat yang kuat dan konsistensi dalam menjalani proses pembinaan.
Selain pengajian, kegiatan ini juga diisi dengan aksi sosial berupa pembagian 1.000 porsi makan gratis kepada warga binaan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian sosial di lingkungan Lapas.
Kepala Lapas Kelas IIA Kediri, Budi Suwanto, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai pendekatan spiritual memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kesiapan warga binaan untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat.
“Pembinaan keagamaan menjadi elemen penting dalam proses pemasyarakatan. Kegiatan ini memberikan dorongan moral dan energi positif bagi warga binaan agar lebih siap menjalani kehidupan setelah masa pidana,” kata Budi Suwanto.
Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIA Kediri berharap pembinaan spiritual dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari sistem pemasyarakatan yang berorientasi pada pemulihan dan reintegrasi sosial.
(Pan)
dibaca

