Malang | Rajawalikompas.com – Semangat menjaga warisan leluhur dan memperkuat identitas budaya bangsa kembali digaungkan melalui perayaan Anniversary ke-2 ELLITE Radius 25 yang dirangkai dengan Festival Kebaya Seni Budaya Nusantara. Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu (1/11/2026) di Malang Creative Center (MCC) Lantai 2, Kota Malang, Jawa Timur.
[Foto : Perayaan Anniversary ke-2 ELLITE Radius 25 yang dirangkai dengan Festival Kebaya Seni Budaya Nusantara]
Mengusung semangat pelestarian budaya Nusantara, festival ini tidak sekadar menjadi ajang perayaan komunitas, tetapi juga menghadirkan pesan penting tentang keberlanjutan tradisi, penguatan jati diri bangsa, serta upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke panggung internasional.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi, kebaya, jarik, serta berbagai ekspresi seni tradisional menjadi simbol bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya mengikis akar budaya bangsa.
Salah satu tokoh yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah Sangheyang Hamim, yang hadir sebagai tamu kehormatan sekaligus pembicara utama. Ia mengemban mandat sebagai Presiden Repoeblik Ngopi, Duta Wisata Internasional Muteri Kawasan Gunung Arjuna Induk Peradaban Dunia, serta Ketua Yayasan PANDAWA.
Dalam pemaparannya, Sangheyang Hamim menegaskan bahwa festival budaya tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari gerakan untuk membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga warisan spiritual, sejarah, dan kebudayaan Nusantara.
Ia juga mengangkat konektivitas situs-situs bersejarah dan kawasan yang memiliki nilai spiritual di Jawa Timur, mulai dari Candi Singosari di Malang hingga kawasan Penataran di Blitar.
Menurutnya, kawasan Gunung Arjuna memiliki posisi strategis dalam visi pengembangan peradaban Nusantara. Ia menyampaikan bahwa kawasan tersebut telah memperoleh pengakuan dari The World Peace Committee yang disebut mewakili 202 negara dengan predikat The Mother of World Civilization atau Induk Peradaban Dunia.
Lebih jauh, Sangheyang Hamim memaparkan gagasan pengembangan Mega Proyek Istana Kerajaan Pariwisata Dunia dengan nilai investasi yang diproyeksikan mencapai Rp313 triliun.
Gagasan tersebut dirancang untuk menghubungkan tujuh wilayah strategis, yakni Malang, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Kediri, dan Blitar. Melalui konsep kawasan terintegrasi, warisan sejarah dan budaya leluhur diharapkan dapat dikembangkan menjadi kekuatan pariwisata sekaligus identitas peradaban yang memiliki daya tarik internasional.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan digitalisasi budaya agar warisan Nusantara dapat diperkenalkan secara lebih luas, tanpa kehilangan nilai dan karakter aslinya.
Kemeriahan festival dimulai pukul 09.00 WIB dengan dipandu dua pembawa acara, Kuat Slamet dan Sulis.
Suasana Malang Creative Center semakin semarak melalui parade busana kebaya dan jarik khas Nusantara yang ditampilkan peserta dari berbagai kelompok usia. Penampilan lintas generasi tersebut memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap budaya bangsa tidak hanya menjadi tanggung jawab generasi terdahulu, tetapi juga perlu diwariskan kepada generasi muda.
Kebaya bukan semata-mata busana tradisional. Di dalamnya terkandung nilai sejarah, keanggunan, identitas, serta perjalanan panjang kebudayaan perempuan Indonesia. Begitu pula jarik yang merepresentasikan kekayaan motif, filosofi, dan kearifan lokal dari berbagai daerah.
Turut hadir dua tokoh senior ELLITE Radius 25, yakni Romo Wahyu, budayawan Kota Malang, dan YM Armusi. Kehadiran keduanya menjadi bentuk dukungan terhadap konsistensi komunitas dalam merawat kebersamaan dan memperkuat persatuan melalui seni serta kebudayaan.
Festival Kebaya Seni Budaya Nusantara menjadi pengingat bahwa kebudayaan merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun karakter dan martabat bangsa.
Di tengah arus globalisasi, Indonesia memiliki kekayaan tradisi, seni, sejarah, dan kearifan lokal yang patut dijaga sekaligus diperkenalkan kepada dunia. Kemajuan teknologi semestinya menjadi sarana untuk memperluas jangkauan pelestarian budaya, bukan justru menjauhkan masyarakat dari akar sejarahnya.
Melalui momentum Anniversary ke-2 ELLITE Radius 25, semangat merawat warisan leluhur kembali ditegaskan. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga bangsa yang mengenal sejarah, menghargai budayanya, dan menjaga identitasnya untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
(Khan RK)
dibaca



Hi Please, Do not Spam in Comments