Purworejo | Rajawalikompas.com - Turnamen bola voli Kedungpucang Cup 2026 resmi berakhir pada Sabtu (12/9/2026) setelah berlangsung selama kurang lebih 20 hari. Kompetisi yang digelar di lapangan baru tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat dan diikuti puluhan tim dari sejumlah daerah.
Ketua Panitia Kedungpucang Cup 2026, Hermawan, mengatakan turnamen tersebut kembali digelar setelah sempat terhenti beberapa waktu. Kehadiran lapangan baru menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat dalam menyelenggarakan kompetisi bola voli.
“Turnamen ini sebenarnya pernah terhenti beberapa saat. Alhamdulillah, dengan tempat dan lapangan yang baru, muncul semangat baru untuk mengadakan Kedungpucang Cup 2026,” ujar Hermawan.
Menurutnya, pelaksanaan turnamen mendapat dukungan dari Imam Teguh Purnomo serta sejumlah donatur. Dukungan tersebut turut membantu panitia sehingga seluruh rangkaian pertandingan dapat berlangsung lancar sesuai rencana.
Kedungpucang Cup 2026 diikuti 48 tim, terdiri dari 32 tim putra dan 16 tim putri. Peserta tidak hanya berasal dari Kabupaten Purworejo, tetapi juga dari Kabupaten Magelang, Kabupaten Kebumen, hingga Yogyakarta.
Kompetisi berlangsung sejak 22 Agustus hingga 12 September 2026. Panitia menyebut pelaksanaan selama hampir tiga pekan tersebut berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Pada partai final, Genetis Kalinegoro, Kabupaten Magelang, berhasil keluar sebagai juara pertama kategori putra. Posisi runner-up ditempati tim lokal Sidomukti dari Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo.
Sementara pada kategori putri, Piiva Muntilan, Kabupaten Magelang, menjadi juara pertama. Sedangkan Patriot Purworejo harus puas berada di posisi kedua.
Turnamen yang digelar di lapangan baru tersebut sekaligus menjadi penyelenggaraan perdana setelah kegiatan serupa sebelumnya sempat mengalami jeda.
Untuk memperebutkan gelar juara, panitia menyiapkan total hadiah sebesar Rp20 juta untuk kategori putra dan putri.
Tidak hanya peserta yang menunjukkan antusiasme tinggi. Masyarakat juga memberikan respons luar biasa sepanjang pelaksanaan turnamen, khususnya pada pertandingan malam terakhir.
Meski panitia memberlakukan kontribusi atau retribusi tiket sebagai bagian dari dukungan terhadap kebutuhan akomodasi penyelenggaraan, jumlah penonton tetap membludak.
Pada malam terakhir, sekitar 1.500 tiket, baik kategori VIP maupun reguler, disebut berhasil terjual.
Hermawan menilai tingginya jumlah penonton menjadi bukti bahwa olahraga bola voli memiliki daya tarik besar di tengah masyarakat.
“Antusiasnya sangat luar biasa. Meskipun ada kontribusi untuk mendukung akomodasi kegiatan, penonton tetap membeludak, terutama pada hari terakhir sampai penuh,” katanya.
Keberhasilan penyelenggaraan tahun ini juga membuka peluang Kedungpucang Cup kembali digelar sebagai agenda tahunan.
“Melihat kegiatan hari ini yang alhamdulillah berjalan lancar, kemungkinan tahun depan, jika tidak ada halangan dan kami masih solid, insyaallah akan kami adakan Kedungpucang Cup yang kedua,” ujar Hermawan.
Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir dalam pertandingan final, di antaranya Camat, Ketua KONI Kabupaten Purworejo Muhammad Abdullah, Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Imam Teguh Purnomo, Ketua Polosoro Kabupaten Purworejo Andhi Prasetyawan, perwakilan sejumlah pihak, serta unsur TNI dan Polri.
Hermawan berharap keberhasilan turnamen tersebut dapat menjadi pemantik semangat masyarakat dan para pemain muda di Kedungpucang untuk semakin serius berlatih.
Ia ingin kompetisi berikutnya dapat dikemas lebih baik, lebih besar, dan mampu menarik lebih banyak peserta serta penonton.
Ketua KONI Kabupaten Purworejo, Muhammad Abdullah, memberikan apresiasi kepada seluruh pemain dan panitia, khususnya kepada tim yang berhasil meraih juara.
Ia juga menyoroti tingginya antusiasme masyarakat yang memenuhi area sekitar lapangan hingga pertandingan berakhir.
“Saya mengucapkan selamat kepada para pemain, terutama yang juara malam ini, Genetis Magelang. Kita melihat permainannya cukup baik,” kata Abdullah.
Menurutnya, membludaknya penonton menjadi indikator bahwa bola voli merupakan salah satu olahraga yang sangat dekat dengan masyarakat. Setelah sepak bola, bola voli dinilai memiliki basis penggemar yang besar dan mampu menarik masyarakat untuk hadir langsung menyaksikan pertandingan.
“Area sekitar lapangan penuh sesak penonton. Bahkan sampai malam dan pertandingan selesai, penonton tidak beranjak dari tempat duduknya. Ini membuktikan kecintaan masyarakat terhadap olahraga bola voli,” ujarnya.
Abdullah berharap munculnya atlet-atlet muda dari berbagai kompetisi lokal dapat segera terpantau dan mendapatkan pembinaan secara serius. Ia menilai keberadaan turnamen seperti Kedungpucang Cup penting sebagai bagian dari proses pencarian bibit atlet potensial.
“Harapannya para pemain kita kalau muncul bisa cepat terlihat, sehingga ke depan pembinaan olahraga di kabupaten semakin maju, berkembang dan progresif,” katanya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadikan olahraga sebagai hiburan, tetapi menjadikannya sebagai jalan menuju prestasi dan masa depan.
“Pesan saya untuk generasi muda, cintailah olahraga. Bola voli jangan hanya sekadar dicintai, tetapi prestasi di tingkat dunia juga sudah bisa kita lihat,” tegasnya.
Abdullah juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan kembali digelar pertandingan bola voli yang diselenggarakan oleh Kodim 0708 Purworejo. Menurutnya, kesinambungan kompetisi sangat diperlukan untuk menjaga gairah olahraga sekaligus memberikan kesempatan kepada atlet untuk terus berkembang.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, Imam Teguh Purnomo, menilai tingginya jumlah penonton pada Kedungpucang Cup 2026 menjadi bukti nyata bahwa bola voli merupakan olahraga yang sangat diminati masyarakat.
“Untuk malam ini saya kira ini suatu tontonan yang luar biasa. Penontonnya sangat banyak. Ini bukti bahwa olahraga voli sangat diminati dan disukai masyarakat, setelah sepak bola,” kata Imam.
Menurutnya, besarnya animo masyarakat harus diikuti dengan dukungan nyata terhadap pembinaan olahraga, khususnya dalam hal penyediaan kompetisi dan anggaran.
Ia mendorong pemerintah untuk memperbanyak event olahraga sehingga semakin banyak bibit atlet yang dapat ditemukan dan dibina sejak usia muda.
“Yang penting kami support olahraga-olahraga yang banyak diminati masyarakat untuk mencari bibit-bibit generasi muda, khususnya di wilayah Purworejo,” ujarnya.
Imam menilai dukungan anggaran terhadap KONI menjadi salah satu faktor penting. Tanpa dukungan pembiayaan yang memadai, ruang gerak KONI untuk menggelar kompetisi dan melakukan pembinaan atlet akan terbatas.
“Pemerintah harus banyak memberikan event, terutama banyak memberikan dana kepada KONI. Kalau tidak ada dukungan dana, kasihan KONI untuk mengadakan event-event seperti ini,” tegasnya.
Ia berharap dari banyaknya kompetisi yang digelar di Purworejo nantinya lahir pemain-pemain muda berkualitas yang mampu menembus level lebih tinggi, setidaknya kompetisi nasional seperti Proliga.
“Harapan ke depan untuk masyarakat Purworejo, khususnya olahraga voli, bisa muncul bibit-bibit muda yang luar biasa, supaya nanti bisa mengisi kancah paling tidak Proliga,” katanya.
Imam juga membuka peluang adanya sinergi dukungan antara berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, KONI, serta DPRD Provinsi Jawa Tengah untuk memperkuat pembinaan olahraga.
Menurutnya, pembinaan atlet membutuhkan kerja bersama dan dukungan anggaran yang berkelanjutan. Kompetisi lokal seperti Kedungpucang Cup tidak boleh berhenti sebagai tontonan semata, tetapi harus menjadi bagian dari sistem pembinaan yang mampu menghasilkan atlet berprestasi.
“Kalau bisa menyatu dan bersinergi, saya kira luar biasa,” ujarnya.
Kedungpucang Cup 2026 akhirnya tidak hanya meninggalkan catatan tentang persaingan 48 tim dari berbagai daerah. Membludaknya penonton dan munculnya wacana penyelenggaraan kembali tahun depan menjadi sinyal bahwa bola voli memiliki potensi besar sebagai salah satu kekuatan olahraga masyarakat di Kabupaten Purworejo.
Tantangannya kini adalah memastikan antusiasme tersebut berlanjut menjadi pembinaan yang terarah, kompetisi yang rutin, serta dukungan anggaran yang mampu mengantarkan bibit-bibit lokal menuju level prestasi yang lebih tinggi.
Widi RK
dibaca



