![]() |
| [Foto : Gunung Anak Krakatau memuntahkan kolom abu vulkanik dalam aktivitas erupsi di kawasan Selat Sunda] |
Peningkatan aktivitas ditandai erupsi eksplosif pada Minggu (6/9) pukul 03.53 WIB. Kolom abu vulkanik teramati membumbung hingga sekitar 14,6 kilometer di atas permukaan laut, atau setara dengan FL 480 dalam terminologi penerbangan.
Selain semburan abu, aktivitas erupsi juga disertai lontaran lava pijar setinggi sekitar 100 hingga 400 meter dari kawah serta kemunculan fenomena lava fountain.
Erupsi menerus sempat berhenti pada pukul 07.10 WIB. Namun, aktivitas vulkanik belum sepenuhnya mereda. Tremor dan kepulan asap berwarna kelabu hingga hitam masih teramati, sementara pemantauan aktivitas gunung api terus dilakukan selama 24 jam.
Aktivitas Anak Krakatau tidak hanya menjadi perhatian di sekitar Selat Sunda. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 yang diamati BMKG pada pukul 07.00 WIB, sebaran abu vulkanik teridentifikasi dalam dua klaster pada lapisan atmosfer yang berbeda.
Klaster pertama berada pada ketinggian sekitar 20.000 kaki dan bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, klaster kedua berada pada ketinggian sekitar 50.000 kaki. Pergerakan abu mengarah ke barat daya hingga barat laut, dengan wilayah terdampak atau berpotensi terdampak mencakup Lampung, Bengkulu, Banten, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia di sebelah barat Sumatera.
Pergerakan abu pada ketinggian yang berbeda tersebut menjadi perhatian serius, khususnya terhadap keselamatan penerbangan dan aktivitas masyarakat di wilayah yang dilalui sebaran abu.
Dampak erupsi juga merambat ke sektor penerbangan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara pada pukul 01.30 hingga 05.30 WIB sebagai bagian dari langkah mitigasi terhadap potensi bahaya abu vulkanik bagi penerbangan.
Sebanyak 33 penerbangan dilaporkan terdampak, terdiri atas 16 pembatalan penerbangan internasional dan tujuh penerbangan yang mengalami keterlambatan. Sejumlah rute yang terdampak antara lain penerbangan menuju atau dari Singapura, Hong Kong, Sydney, Doha, Amsterdam, dan Denpasar.
Untuk mendukung keselamatan penerbangan, BMKG telah menerbitkan 50 SIGMET terkait kondisi atmosfer dan potensi bahaya abu vulkanik.
Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena partikel tersebut dapat mengganggu sistem mesin pesawat serta mengurangi jarak pandang dan memengaruhi sejumlah instrumen penerbangan.
Dampak erupsi juga mulai diantisipasi pemerintah daerah. Pemerintah Kota Tangerang mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan guna mengurangi risiko paparan partikel abu vulkanik.
Kepala BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya antisipasi terhadap kemungkinan gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, terutama pada saluran pernapasan.
Di Lampung Selatan, pemerintah daerah mengambil langkah lebih lanjut dengan menutup sementara aktivitas wisata menuju Pulau Sebesi dan kawasan Anak Krakatau. Radius 3 kilometer dari kawah dinyatakan sebagai kawasan yang harus disterilkan dari aktivitas masyarakat.
Nelayan juga dilarang mendekati kawasan tersebut demi menghindari risiko yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
PVMBG meminta masyarakat mematuhi radius aman 3 kilometer dari kawah serta tidak melakukan aktivitas pendakian maupun wisata di kawasan yang telah dinyatakan berbahaya.
Pemkab Lampung Selatan menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, antara lain pembagian masker gratis, penyediaan pos kesehatan, serta skenario pembelajaran daring bagi sekolah apabila kondisi lingkungan tidak memungkinkan kegiatan belajar tatap muka.
Sementara itu, BMKG memperkirakan kondisi cuaca pada 6–8 September secara umum cerah hingga berawan. Angin diprakirakan bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan sekitar 31–37 kilometer per jam. Kondisi angin tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam pemantauan arah pergerakan abu vulkanik.
Masyarakat yang berada di wilayah yang berpotensi terpapar abu vulkanik diminta meningkatkan kewaspadaan. Penggunaan masker ketika berada di luar rumah serta menutup pintu dan jendela apabila abu mulai masuk ke dalam rumah menjadi langkah sederhana yang dianjurkan.
Kelompok rentan, terutama anak-anak, lanjut usia, serta penderita asma, diminta memberikan perhatian lebih terhadap kondisi kesehatan. Jika mengalami sesak napas atau gangguan pernapasan setelah terpapar abu, masyarakat dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan menjadikan PVMBG, BMKG, serta pemerintah daerah setempat sebagai rujukan utama informasi kebencanaan.
Erupsi Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa aktivitas gunung api di kawasan Selat Sunda masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Dengan status Level III (Siaga), kepatuhan terhadap radius aman dan informasi resmi menjadi kunci untuk meminimalkan risiko bagi masyarakat, nelayan, wisatawan, maupun sektor penerbangan.
(Arif RK)
dibaca



