![]() |
| [Foto : Perahu yang karam saat angkut sound horeg di Balongdowo Candi Sidoarjo] |
Perahu tersebut diketahui dimodifikasi untuk mengangkut perangkat sound system berukuran besar lengkap dengan genset dan lighting, yang bobotnya diperkirakan mencapai sekitar satu ton. Selain itu, perahu juga dinaiki lebih dari 10 orang yang ikut berjoget mengikuti alunan musik, sehingga keseimbangan perahu terganggu.
Kasat Polairud Polresta Sidoarjo, AKP Imam Yuwono, menjelaskan bahwa warga menggabungkan dua perahu untuk menopang satu set sound horeg. Namun, salah satu perahu tidak kuat menahan beban dan getaran dari perangkat suara.
“Perahunya dua digabung untuk membawa sound, speaker, dan genset. Ternyata salah satunya tidak kuat, kena getaran, akhirnya miring dan karam,” jelas AKP Imam Yuwono.
Ia menambahkan, selain beban perangkat yang sangat berat, kondisi perahu semakin tidak stabil karena dipenuhi penumpang.
“Berat sound saja kira-kira satu ton. Ditambah sekitar 10 orang yang naik. Begitu perahu miring, keseimbangan hilang. Untungnya alat-alat sempat dievakuasi dan tidak ada korban jiwa,” ujarnya.
Seluruh perlengkapan sound system, lighting, dan genset berhasil dievakuasi meski sempat tenggelam. Tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Namun yang menjadi sorotan, kejadian ini disebut sebagai pengulangan dari insiden serupa pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga menimbulkan keprihatinan aparat dan masyarakat.
Polairud Polresta Sidoarjo pun mengingatkan agar pelaksanaan tradisi budaya tetap mengedepankan aspek keselamatan, khususnya dalam penggunaan sarana air.
“Tradisi budaya harus tetap dilestarikan, tetapi jangan mengabaikan keselamatan. Modifikasi perahu dan muatan berlebih sangat berisiko,” tegas AKP Imam Yuwono.
Peristiwa ini diharapkan menjadi pengingat serius bagi penyelenggara dan masyarakat agar ke depan lebih bijak, tertib, dan memprioritaskan keselamatan dalam setiap kegiatan tradisi, sehingga tidak menimbulkan korban maupun kerugian yang lebih besar.
(Redaksi RK)
dibaca
