![]() |
| [Foto : Pimpinan Redaksi Rajawali Kompas ] |
Hari Pers Nasional menjadi momentum refleksi mendalam bagi seluruh insan pers untuk memperkuat profesionalisme, independensi, dan integritas jurnalistik. Di era digital yang dipenuhi arus informasi cepat, hoaks, dan kepentingan tersembunyi, pers dituntut tidak hanya gesit, tetapi juga akurat, berimbang, serta bertanggung jawab.
Dewan Redaksi Rajawali Kompas menegaskan bahwa kebebasan pers harus berjalan seiring dengan etika jurnalistik dan keberanian moral. Pers tidak boleh kehilangan nurani, karena setiap karya jurnalistik memiliki dampak langsung terhadap kesadaran dan kehidupan masyarakat.
Sebagai media yang konsisten mengangkat isu-isu publik, sosial, hukum, dan kemanusiaan, Rajawali Kompas berkomitmen untuk terus menjadi ruang informasi yang mencerahkan, kritis, dan berpihak pada kebenaran.
Pimpinan Redaksi Rajawali Kompas, Sariyan, dalam pernyataannya pada peringatan Hari Pers Nasional 2026 menyampaikan pesan yang tegas dan inspiratif
“Hari Pers Nasional adalah pengingat bahwa pers lahir dari keberanian melawan ketakutan dan keberpihakan pada kebenaran. Jurnalis bukan alat kekuasaan, bukan pula pedagang sensasi, melainkan penjaga nurani publik.”ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar pers saat ini bukan hanya tekanan eksternal, tetapi juga godaan internal yang dapat menggerus idealisme dan profesionalisme.
“Rajawali Kompas akan terus berdiri sebagai media yang independen, kritis, dan berintegritas. Kami meyakini, pers yang kuat bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling jujur dalam menyampaikan fakta.”tuturnya.
Ia juga mengajak seluruh insan pers untuk tetap solid menjaga marwah jurnalistik di tengah perubahan teknologi dan pola konsumsi informasi masyarakat.
“Selama pers masih berani menulis kebenaran, selama itu pula harapan publik akan tetap hidup,” pungkas Sariyan.
(Redaksi Rajawali Kompas)
dibaca
